klikwartaku.com
Beranda Internasional Eksodus Ban Dalam di Pesisir Ceuta

Eksodus Ban Dalam di Pesisir Ceuta

Wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, dilanda krisis migran setelah ribuan orang menyeberang dari Maroko pascaputusan Mahkamah Agung. Foto: Tangkapan layar YouTube DRM News

KLIKWARTAKU — Pekikan “Viva España!” memecah gemuruh ombak di pesisir Ceuta, wilayah eksklave Spanyol yang berada tepat di utara benua Afrika. Sambil mengayuh ban dalam dan alat apung rakitan, puluhan pemuda basah kuyup merayap naik melalui pemecah gelombang batu. Setelah menjejakkan kaki di daratan, mereka membaur dengan kerumunan yang kian membeludak di jalan-jalan kota kecil tersebut.

Selama 10 hari terakhir, gerbang perbatasan unik yang memisahkan Uni Eropa dan daratan Afrika itu dilanda kepungan gelombang manusia. Pemerintah daerah Ceuta mencatat sedikitnya 1.500 hingga 2.000 migran asal Maroko dan wilayah sub-Sahara telah berhasil menerobos masuk.

Presiden Regional Ceuta, Jesús Vivas, mengibarkan bendera putih. Pada Kamis lalu, ia resmi menetapkan status “keadaan darurat kemantuan dan sosial absolut” di wilayahnya. Vivas mendesak pemerintah pusat di Madrid untuk segera menerjunkan militer demi memulihkan kendali perbatasan yang kian tak terkendali.

“Situasinya benar-benar di luar kendali saat ini,” ujar Zakaria Zarroqui, seorang aktivis hak asasi manusia dan migrasi, menggambarkan kekacauan di lapangan. Menurut Zarroqui, ribuan orang masih terus menyemut di kota Fnideq, Maroko—titik kumpul utama sebelum nekat menyeberang menuju Ceuta.

Gelombang eksodus kali ini mengingatkan publik pada peristiwa kelam Mei 2021, ketika sekitar 10.000 warga Maroko menembus barikade Ceuta hanya dalam hitungan hari. Namun, ada pemantik baru dalam krisis kali ini: celah hukum.

Awal bulan ini, Mahkamah Agung Spanyol mengeluarkan putusan monumental yang melarang pihak berwenang memulangkan paksa migran yang dicegat di laut saat mencoba mencapai Ceuta maupun Melilla—dua kota otonom Spanyol yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Benua Hitam.

Putusan hukum itu serta-merta dimanfaatkan oleh sindikat perdagangan manusia. “Sejak putusan Mahkamah Agung keluar, pergerakan memang merangkak pelan. Namun hari ini, terjadi ledakan besar,” kata seorang juru bicara kepolisian Guardia Civil Spanyol.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menuding jaringan penyelundup manusia secara aktif mengeksploitasi celah hukum tersebut untuk memprovokasi ribuan pemuda melintasi batas secara ilegal, baik lewat jalur laut maupun memanjat pagar perbatasan darat.

Kendati tekanan politisi lokal di Ceuta kian kencang, Pemerintah Pusat Spanyol di Madrid enggan terburu-buru menetapkan status darurat nasional. Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa mekanisme darurat nasional tidak dirancang untuk menangani krisis migrasi.

Sebagai kompromi, Madrid mengumumkan penyiapan sumber daya logistik tambahan serta pengerahan awal 60 personel Angkatan Bersenjata Spanyol untuk memperketat titik-titik rawan di perbatasan.

Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, dijadwalkan terbang langsung ke Ceuta pada Jumat untuk mengevaluasi situasi di lapangan dan berkoordinasi dengan otoritas Maroko guna meredam gelombang penyeberangan lanjutan. Bagi Madrid, menjaga Ceuta bukan sekadar mempertahankan batas wilayah negara, melainkan membentengi gerbang terdepan Eropa dari krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.***

Bagikan:

Iklan