Putin Tolak Bertemu Zelensky, Rusia Tegaskan Perang Ukraina Baru Berakhir Jika Target Moskow Tercapai
KLIKWARTAKU — Presiden Rusia Vladimir Putin menolak usulan pertemuan langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk membahas penghentian perang Ukraina. Putin menilai pertemuan tatap muka saat ini tidak memiliki manfaat sebelum tercapai kesepakatan substantif antara kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Putin saat menghadiri forum ekonomi tahunan di St Petersburg pada Jumat, 6 Juni 2026. Ia menanggapi surat terbuka Zelensky yang sehari sebelumnya menyerukan negosiasi langsung demi mengakhiri perang yang berlangsung sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022.
“Saya tidak melihat ada gunanya untuk saat ini,” kata Putin ketika ditanya mengenai kemungkinan bertemu Zelensky.
Putin juga menyebut isi surat Zelensky bernada kasar dan mempertanyakan keseriusan Ukraina dalam membuka ruang dialog damai. Menurut Putin, penghentian sementara pertempuran hanya akan memberi kesempatan kepada Ukraina untuk mempersiapkan kembali kekuatan militernya. Karena itu, Rusia menginginkan kesepakatan jangka panjang sebelum gencatan senjata diberlakukan.
“Satu-satunya tujuan mereka adalah menghentikan laju pasukan kami. Tetapi yang kami perlukan adalah kesepakatan jangka panjang,” ujar Putin. Ia kembali menegaskan perang akan berakhir hanya jika target strategis Rusia telah tercapai.
Rusia selama ini menuntut Ukraina menarik diri dari wilayah Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia, serta menghentikan upaya bergabung dengan NATO. Namun Kyiv menolak menyerahkan wilayah mana pun karena khawatir hal itu justru akan memicu agresi baru Moskow di masa depan.
Sebagai respons atas penolakan Putin, Zelensky menuding Rusia kembali memilih jalur perang. “Dia memang tidak ingin mengakhiri perang,” tulis Zelensky melalui Telegram.
Dalam suratnya, Zelensky juga menyindir usia Putin yang telah lebih dari dua dekade berkuasa di Rusia. Ia turut menyinggung serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia, termasuk serangan di St Petersburg yang disebutnya sebagai “kunjungan”.
Pernyataan Zelensky sempat memunculkan harapan baru mengenai peluang perdamaian, termasuk dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menjadi hal “sangat baik” jika kedua pemimpin itu bertemu secara langsung.
Di tengah memanasnya situasi diplomatik, Ukraina mengklaim telah menyerang lima kapal di Laut Azov dan perairan wilayah pendudukan Rusia. Komandan drone Ukraina Robert Brovdi menyebut kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut gandum Ukraina secara ilegal serta memasok bahan bakar dan logistik militer Rusia.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Azerbaijan menyatakan lima orang tewas akibat serangan terhadap dua kapal di Laut Azov. Namun Azerbaijan tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Di kawasan Laut Hitam, sebuah drone Ukraina dilaporkan meledak di pelabuhan Constanta, Rumania, setelah diduga terganggu sistem interferensi elektronik Rusia.
Serangan terbaru Rusia ke wilayah Ukraina juga terus menelan korban sipil. Pejabat Ukraina melaporkan sedikitnya 13 orang tewas dan 70 lainnya luka-luka dalam rentetan serangan dalam 24 jam terakhir.
Empat orang meninggal setelah sebuah pabrik susu di luar Kyiv dihantam serangan Rusia. Sementara di Kherson, serangan drone ke sebuah stasiun pengisian bahan bakar menewaskan seorang perempuan berusia 35 tahun.***








