klikwartaku.com
Beranda Internasional Nikkei Jepang Tembus Rekor 68.000, Demam AI Dorong Saham Semikonduktor Melonjak

Nikkei Jepang Tembus Rekor 68.000, Demam AI Dorong Saham Semikonduktor Melonjak

Indeks Nikkei 225 Jepang mencetak rekor baru di atas 68.000 akibat lonjakan investasi AI global. Saham perusahaan chip dan teknologi memimpin reli pasar. Foto: Tangkapan layar YouTube WION

KLIKWARTAKU — Pasar saham Jepang kembali mencetak sejarah baru di tengah euforia global terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Indeks acuan Nikkei 225 menembus level 68.000 untuk pertama kalinya setelah melonjak hampir 3 persen pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Kenaikan tersebut memperpanjang reli impresif pasar saham Jepang sepanjang tahun ini. Hingga awal Juni 2026, Nikkei tercatat telah menguat hampir 33 persen, didorong oleh derasnya arus investasi ke sektor teknologi dan semikonduktor.

Analis Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, mengatakan optimisme investor terhadap perkembangan AI menjadi motor utama penguatan pasar saham Asia. “Antusiasme investor terhadap booming AI membantu mendorong pasar ekuitas Asia lebih tinggi,” kata Goh.

Menurut dia, permintaan tinggi terhadap chip kelas atas tidak hanya menguntungkan perusahaan teknologi di Taiwan dan Korea Selatan, tetapi juga pasar Jepang yang mendapat tambahan sentimen positif dari pelemahan yen.

Saham perusahaan semikonduktor Jepang memimpin lonjakan perdagangan. Tokyo Electron, produsen peralatan semikonduktor terbesar di Jepang, melesat hingga 14 persen dalam perdagangan pagi.

Sementara itu, Advantest, pemasok alat pengujian chip semikonduktor, naik lebih dari 5,5 persen. Shin-Etsu Chemical, perusahaan pemasok wafer silikon untuk sirkuit terpadu, juga menguat sekitar 4 persen.

Berbeda dengan emiten chip lainnya, saham Softbank justru terkoreksi sekitar 3 persen. Penurunan itu terjadi setelah perusahaan investasi teknologi tersebut menyalip Toyota pada awal pekan ini sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Jepang.

Reli pasar saham global dipicu oleh lonjakan permintaan terhadap chip AI yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut telah membawa indeks-indeks utama di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Dalam sebulan terakhir, tiga produsen chip memori dunia yakni SK Hynix, Samsung Electronics, dan Micron Technology berhasil masuk klub perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp16.200 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.

Secara keseluruhan, baru 17 perusahaan global yang pernah mencapai valuasi di atas 1 triliun dolar AS, dan mayoritas berasal dari Amerika Serikat. Meski sebagian investor mulai khawatir terhadap valuasi saham teknologi yang dianggap terlalu tinggi, perusahaan-perusahaan raksasa teknologi tetap agresif menggelontorkan investasi untuk infrastruktur AI.

Goldman Sachs memperkirakan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat akan menghabiskan sekitar 800 miliar dolar AS atau setara Rp12.960 triliun untuk belanja modal terkait AI sepanjang 2026.

Alphabet, induk usaha Google, pada pekan ini mengumumkan rencana penjualan saham senilai 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.296 triliun guna mendukung belanja modal perusahaan yang diperkirakan mencapai 180 hingga 190 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.916 triliun hingga Rp3.078 triliun tahun ini.

Gelombang investasi besar-besaran itu menunjukkan bahwa perlombaan pengembangan AI global masih jauh dari kata usai. Jepang kini menjadi salah satu pasar yang paling diuntungkan dari tren tersebut, terutama melalui sektor semikonduktor dan teknologi tinggi.***

Bagikan:

Iklan