klikwartaku.com
Beranda Internasional Nigeria Siapkan Evakuasi Warganya dari Afrika Selatan Usai Serangan Anti-Imigran

Nigeria Siapkan Evakuasi Warganya dari Afrika Selatan Usai Serangan Anti-Imigran

Nigeria berencana memulangkan warganya dari Afrika Selatan secara sukarela setelah meningkatnya serangan anti-imigran dan kekerasan terhadap warga asing. Foto: Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English

KLIKWARTAKU — Pemerintah Nigeria berencana memulangkan warganya dari Afrika Selatan yang bersedia kembali secara sukarela. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya serangan terhadap warga asing yang memicu kekhawatiran eskalasi kekerasan.

Menteri Luar Negeri Nigeria, Bianca Odumegwu-Ojukwu, menyatakan sedikitnya 130 warga telah mendaftar untuk program repatriasi tersebut, dan jumlahnya diperkirakan terus bertambah.

Ia juga menyampaikan keprihatinan Presiden Bola Tinubu terhadap situasi yang berkembang. Pemerintah Nigeria mengecam aksi kekerasan terhadap warga asing serta gelombang demonstrasi yang diwarnai retorika xenofobia, ujaran kebencian, dan sentimen anti-migran.

Sebagai respons diplomatik, Nigeria telah memanggil pejabat perwakilan tinggi sementara Afrika Selatan. Pemerintah Nigeria juga akan menyampaikan “keprihatinan mendalam” dalam pertemuan bilateral yang dijadwalkan berlangsung pekan ini, karena insiden tersebut dinilai berpotensi merusak hubungan kedua negara.

Pertemuan itu akan membahas aksi unjuk rasa kelompok anti-imigran serta sejumlah kasus kekerasan terhadap warga Nigeria dan usaha milik mereka di Afrika Selatan.

Odumegwu-Ojukwu menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah. Ia menyebut pemerintah tengah mendata warga Nigeria di Afrika Selatan guna menyiapkan penerbangan repatriasi bagi mereka yang ingin pulang.

Ketegangan meningkat setelah laporan tewasnya dua warga Nigeria dalam insiden terpisah yang melibatkan aparat keamanan setempat. Pemerintah Nigeria menuntut keadilan atas kasus tersebut. Media lokal juga melaporkan bahwa empat warga Ethiopia turut menjadi korban dalam beberapa pekan terakhir. Serangan serupa disebut juga menyasar warga dari negara Afrika lainnya.

Sebagai negara dengan ekonomi paling maju di kawasan, Afrika Selatan selama ini menjadi tujuan utama pencari kerja dari berbagai negara Afrika. Namun, meningkatnya pengangguran dan masalah sosial memicu sentimen negatif terhadap pendatang.

Presiden Cyril Ramaphosa telah mengecam kekerasan tersebut, namun juga mengingatkan warga asing untuk mematuhi hukum setempat. Dalam pidato Hari Kebebasan yang memperingati pemilu demokratis pertama pada 1994, ia menekankan pentingnya solidaritas antarnegara Afrika, terutama dalam sejarah perjuangan melawan apartheid.

Meski demikian, sejumlah kelompok masyarakat di Afrika Selatan menuding migran ilegal sebagai penyebab meningkatnya kriminalitas dan perebutan lapangan kerja. Kelompok anti-imigran bahkan dilaporkan menghentikan orang di sekitar rumah sakit dan sekolah untuk memeriksa dokumen identitas.

Dalam aksi demonstrasi di Pretoria pekan lalu, pelaku usaha milik warga asing diminta menutup toko demi menghindari potensi kekerasan. Situasi ini juga berdampak pada hubungan diplomatik regional. Bulan lalu, Ghana sempat memanggil perwakilan Afrika Selatan setelah beredarnya video seorang warga Ghana diminta menunjukkan dokumen imigrasi.

Data resmi menunjukkan Afrika Selatan menampung sekitar 2,4 juta migran atau hampir 4 persen dari total populasi. Namun, jumlah sebenarnya diyakini lebih besar karena banyak yang tinggal tanpa dokumen resmi. Sebagian besar migran berasal dari negara tetangga seperti Lesotho, Zimbabwe, dan Mozambik, sementara sebagian lainnya berasal dari Nigeria dan negara Afrika Barat lainnya.***

Bagikan:

Iklan