Kenya Waspada Kekerasan Politik, Geng Bersenjata dan “Goons” Kian Merajalela
KLIKWARTAKU — Kekhawatiran terhadap meningkatnya kekerasan politik di Kenya kembali mencuat setelah serangkaian serangan terhadap politisi dan maraknya aktivitas geng bersenjata yang diduga terkait kepentingan politik.
Insiden terbaru menimpa Senator Godfrey Osotsi yang diserang sekelompok pemuda bertopeng di Kota Kisumu, Kenya barat, pada April lalu. Rekaman CCTV menunjukkan korban dipukuli dan dirampok sebelum para pelaku melarikan diri.
Osotsi menduga serangan itu bermotif politik. Ia mengaku para pelaku sempat mempertanyakan dukungannya terhadap upaya pemilihan kembali Presiden William Ruto.
Insiden tersebut memicu kemarahan publik dan mendorong parlemen Kenya memanggil pejabat keamanan tertinggi untuk memberikan penjelasan. Banyak warga menilai kejadian ini bukan peristiwa tunggal, melainkan sinyal kembalinya pola kekerasan politik yang pernah melanda negara itu.
Sejarah mencatat, praktik penggunaan geng oleh politisi telah berlangsung sejak era demokrasi multipartai pada 1990-an. Kelompok pemuda pengangguran kerap direkrut untuk mengintimidasi lawan politik, terutama saat masa pemilu.
Fenomena ini mencapai puncaknya pada kekerasan pasca-pemilu 2007 yang menewaskan sekitar 1.500 orang. Kini, tanda-tanda siklus serupa kembali terlihat, meskipun pemilu nasional berikutnya masih sekitar 15 bulan lagi.
Ketegangan politik semakin meningkat seiring rencana mantan Wakil Presiden Rigathi Gachagua untuk maju dalam pemilihan presiden setelah dimakzulkan pada 2024. Perpecahan di dalam partai besar juga turut memperkeruh situasi.
Menteri Dalam Negeri Kenya, Kipchumba Murkomen, mengakui pemerintah kesulitan mengendalikan kelompok geng yang kini berkembang menjadi jaringan terorganisir dan terdesentralisasi. Ia menyebut terdapat lebih dari 104 geng aktif di seluruh negeri, banyak di antaranya memiliki keterkaitan dengan politisi.
Sejauh ini, sekitar 300 orang telah ditangkap dalam operasi penertiban. Namun, belum ada politisi yang terseret dalam proses hukum tersebut. Sementara itu, Kepala Kepolisian Kenya, Douglas Kanja, menyatakan aparat telah mengidentifikasi pihak-pihak di balik kekacauan. Ia menegaskan pemerintah berkomitmen menghentikan fenomena “goons dan senjata” dalam waktu dekat.
Namun kritik terhadap pemerintah terus menguat. Kelompok oposisi dan organisasi masyarakat sipil menuduh aparat keamanan kerap menutup mata atau bahkan berkolusi dengan geng kriminal yang menyerang rapat umum politik.
Situasi semakin kompleks setelah wafatnya tokoh oposisi veteran Raila Odinga pada Oktober lalu, yang memicu perpecahan dalam partai oposisi utama dan realignment politik nasional. Bentrok antara aparat dan pendukung oposisi juga menelan korban jiwa. Seorang pria berusia 28 tahun tewas ditembak dalam demonstrasi pada Februari lalu.
Pemerintah melalui juru bicaranya, Isaac Mwaura, membantah tuduhan keterlibatan negara dalam mendukung geng kriminal. Ia menegaskan penggunaan kelompok kekerasan untuk intimidasi politik tidak akan ditoleransi.
Meski demikian, para analis menilai respons pemerintah masih belum konsisten. Analis keamanan Robert Chege menyebut krisis ini sebagai “masalah yang diciptakan sendiri” akibat jaringan patronase politik yang memanfaatkan kekerasan.
Pengamat memperingatkan bahwa jika tidak segera diatasi, tren ini dapat membawa Kenya kembali ke jurang konflik politik seperti masa lalu. Masyarakat kini berharap pemerintah mampu mengendalikan situasi sebelum ketegangan meningkat menjelang pemilu nasional yang dijadwalkan berlangsung paling lambat Agustus tahun depan.***









