klikwartaku.com
Beranda Internasional Diplomat AS Walk Out dari Sidang Dewan Keamanan PBB, Perselisihan dengan Prancis Kian Memanas

Diplomat AS Walk Out dari Sidang Dewan Keamanan PBB, Perselisihan dengan Prancis Kian Memanas

Delegasi Amerika Serikat keluar dari sidang Dewan Keamanan PBB saat Prancis berpidato. Insiden ini memperlihatkan memanasnya hubungan Washington dan Paris terkait isu hak asasi manusia hingga kebijakan internasional. Foto: Tangkapan layar YouTube APT

KLIKWARTAKU — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Prancis kembali mencuat di panggung internasional. Delegasi Amerika Serikat memilih meninggalkan ruang sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat perwakilan Prancis mulai menyampaikan pidatonya dalam pembahasan mengenai perang Rusia di Ukraina.

Aksi walk out yang terjadi pada Senin itu menjadi simbol memburuknya hubungan dua sekutu lama tersebut. Perselisihan tidak lagi terbatas pada isu perang di Ukraina, tetapi juga meluas ke persoalan hak asasi manusia, kebijakan PBB, hingga berbagai perbedaan sikap dalam isu geopolitik global.

Insiden di Dewan Keamanan PBB bermula dari perang pernyataan di media sosial antara pejabat Amerika Serikat dan Prancis mengenai masa jabatan Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menolak mendukung perpanjangan masa jabatan Türk. Sikap Washington memicu kritik keras dari Misi Prancis untuk PBB di Jenewa.

Melalui pernyataan yang diunggah di media sosial, misi Prancis menyebut Amerika Serikat tidak lagi menjadi “mercusuar hak asasi manusia” dan kini berada dalam posisi yang sama dengan sejumlah negara yang kerap dikritik terkait isu HAM.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz. Menurut Waltz, Volker Türk lebih sering mengkritik negara-negara demokrasi seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Israel dibanding negara-negara yang dinilai memiliki catatan pelanggaran HAM berat.

Usai aksi meninggalkan ruang sidang, Wakil Perwakilan Amerika Serikat untuk PBB, Dan Negrea, menegaskan langkah tersebut bukan aksi spontan. Ia menyatakan delegasi Amerika Serikat akan terus melakukan walk out dalam setiap kesempatan hingga Prancis mencabut pernyataan yang dinilai merendahkan dan tidak menghormati Washington.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan diplomatik telah berkembang menjadi konflik terbuka di forum internasional. Berbeda dengan sikap Amerika Serikat, Duta Besar Prancis untuk PBB, Jerome Bonnafont, sama sekali tidak menyinggung aksi walk out tersebut dalam pidatonya.

Ia justru menegaskan komitmen Prancis untuk mempertahankan independensi Perserikatan Bangsa-Bangsa agar tetap mampu menjalankan mandatnya secara bebas. Sikap tersebut dipandang sebagai upaya Paris menghindari eskalasi konfrontasi secara langsung di forum Dewan Keamanan.

Di tengah penolakan Amerika Serikat, Volker Türk akhirnya kembali memperoleh dukungan mayoritas negara anggota PBB. Dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB, Türk terpilih kembali setelah memperoleh 144 suara dukungan, sementara 10 negara menolak dan 13 lainnya memilih abstain.

Selama menjabat, Türk beberapa kali mengkritik berbagai dugaan pelanggaran hukum internasional, termasuk yang berkaitan dengan konflik di Palestina dan Iran. Perselisihan mengenai hak asasi manusia menambah panjang daftar perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Prancis.

Sejak pemerintahan Presiden Donald Trump kembali berkuasa, Washington memangkas pendanaan sejumlah badan PBB dan menarik diri dari berbagai lembaga internasional. Pemerintah AS juga mengisyaratkan akan mengevaluasi kembali keterlibatannya terhadap mandat Komisaris Tinggi HAM PBB.

Di luar isu PBB, kedua negara juga memiliki sejumlah perbedaan sikap, mulai dari pembagian anggaran NATO, kebijakan perdagangan internasional, hingga pernyataan Trump mengenai Greenland yang memicu reaksi dari negara-negara Eropa.

Selain itu, Prancis bersama beberapa negara Eropa memilih tidak terlibat langsung dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sebuah keputusan yang sebelumnya juga menuai kritik dari Trump.

Insiden walk out di Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa hubungan antara Washington dan Paris tengah menghadapi salah satu fase paling sensitif dalam beberapa tahun terakhir.

Meski tetap menjadi sekutu utama di berbagai organisasi internasional, perbedaan pandangan mengenai hak asasi manusia, konflik Timur Tengah, hingga arah kebijakan global memperlihatkan semakin lebarnya jarak diplomatik antara kedua negara.

Bagi pengamat hubungan internasional, konfrontasi terbuka di forum PBB tersebut menjadi sinyal bahwa kerja sama transatlantik ke depan akan menghadapi tantangan yang tidak ringan, terutama ketika isu-isu global semakin dipengaruhi oleh kepentingan politik domestik masing-masing negara.***

Bagikan:

Iklan