klikwartaku.com
Beranda Ekonomi BI Dorong Kredit Perbankan Lewat Insentif dan Sinergi, Target Pertumbuhan 8–11% di 2025

BI Dorong Kredit Perbankan Lewat Insentif dan Sinergi, Target Pertumbuhan 8–11% di 2025

ilustrasi penawaran kredit perbankan

KLIK WARTAKU – Bank Indonesia menekankan pentingnya memperkuat penyaluran kredit perbankan guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa kredit perbankan pada Juni 2025 tumbuh sebesar 7,77% secara tahunan (yoy), melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 8,43% (yoy).

“Perkembangan ini mencerminkan sikap perbankan yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, meskipun Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh meningkat menjadi 6,96% (yoy) pada Juni,” ujar Perry dalam keterangan resmi pekan lalu. Ia menjelaskan, kondisi tersebut mendorong bank untuk lebih banyak menempatkan dananya pada surat berharga serta memperketat standar penyaluran kredit.

Dari sisi permintaan, Perry mencatat bahwa kegiatan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih turut menahan laju pertumbuhan kredit. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,53% (yoy), disusul kredit konsumsi 8,49% (yoy), dan kredit modal kerja yang hanya naik 4,45% (yoy).

Dari sisi sektoral, Bank Indonesia menyoroti perlunya peningkatan penyaluran kredit pada sektor-sektor strategis seperti perdagangan, pertanian, dan jasa dunia usaha. Sementara itu, pembiayaan syariah mencatat pertumbuhan 8,37% (yoy), namun kredit untuk UMKM masih relatif rendah dengan pertumbuhan 2,18% (yoy).

Menghadapi kondisi ini, Bank Indonesia akan terus mendorong penyaluran kredit, termasuk melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan insentif yang terarah. “Kami terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM),” tambah Perry.

Hingga minggu pertama Juli 2025, total insentif KLM yang telah disalurkan mencapai Rp376 triliun. Rinciannya, sebesar Rp167,1 triliun dialokasikan kepada bank BUMN, Rp166,7 triliun ke bank swasta nasional (BUSN), Rp36,8 triliun ke Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan Rp5,8 triliun ke Kantor Cabang Bank Asing (KCBA).

Insentif ini menyasar sektor-sektor prioritas seperti pertanian, real estate, perumahan rakyat, konstruksi, perdagangan dan manufaktur, transportasi, pergudangan, pariwisata, ekonomi kreatif, serta UMKM, ultra mikro, dan sektor hijau.

“Ke depan, kami akan terus menguatkan kebijakan ini agar insentif benar-benar mendorong pertumbuhan sektor-sektor yang berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, selaras dengan program Asta Cita Pemerintah,” tegas Perry.

Meski kredit mengalami perlambatan, ketahanan sistem perbankan nasional tetap kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan pada Mei 2025 tercatat tinggi di level 25,48%, menunjukkan kapasitas sektor perbankan untuk menyerap risiko.

Di sisi likuiditas, rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) mencapai 27,05% pada Juni 2025. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah, sebesar 2,29% secara bruto dan 0,85% secara neto.

Perry menambahkan bahwa hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan sektor keuangan tetap terjaga, didukung oleh profitabilitas dan kemampuan membayar yang kuat dari sektor korporasi.

Sebagai bagian dari upaya stabilisasi dan mitigasi risiko ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), khususnya dalam menghadapi ketidakpastian global dan dinamika domestik. Dengan berbagai langkah tersebut, BI optimistis bahwa kredit perbankan akan tumbuh di kisaran 8% hingga 11% sepanjang tahun 2025.

Bagikan:

Iklan