klikwartaku.com
Beranda Internasional Jepang Punya Lebih dari 100 Ribu Warga Berusia 100 Tahun, tapi Populasinya Terus Menyusut

Jepang Punya Lebih dari 100 Ribu Warga Berusia 100 Tahun, tapi Populasinya Terus Menyusut

Jumlah warga Jepang berusia 100 tahun atau lebih menembus 107.677 orang. Di tengah umur panjang, Jepang menghadapi krisis kelahiran dan populasi yang menua. Foto: Tangkapan layar YouTube Nippon Television News Japan

KLIKWARTAKU — Jepang mencatat tonggak baru dalam sejarah demografinya. Untuk pertama kalinya, jumlah penduduk berusia 100 tahun atau lebih di negara itu menembus angka 100 ribu. Data Kementerian Kesehatan Jepang menunjukkan terdapat 107.677 centenarian, sebutan bagi orang yang telah berusia setidaknya 100 tahun. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di dunia.

Namun, di balik kabar tentang umur panjang itu tersimpan persoalan demografi yang semakin sulit diabaikan. Jepang menghadapi penurunan jumlah penduduk, angka kelahiran yang rendah, serta meningkatnya proporsi warga lanjut usia.

Dari 107.677 warga berusia 100 tahun atau lebih tersebut, sekitar 88 persen merupakan perempuan. Perempuan tertua di Jepang adalah Kishimoto Fuyo, warga Kota Kyoto yang kini berusia 114 tahun. Sementara pria tertua adalah Kato Hikaru, warga Kumamoto yang berusia 112 tahun.

Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno menyambut kenaikan jumlah warga berusia seabad tersebut. Menurut dia, perkembangan pengobatan dan teknologi ikut membantu masyarakat menjalani kehidupan yang lebih panjang.

Ia menyebut dirinya senang melihat begitu banyak orang dapat menjalani kehidupan yang panjang, sehat, dan tetap aktif. Namun, Ueno juga mengingatkan bahwa bertambahnya usia penduduk menghadirkan tantangan besar bagi keberlanjutan sistem jaminan sosial Jepang.

Panjang umur masyarakat Jepang telah lama menjadi perhatian para peneliti. Sejumlah pakar mengaitkannya dengan pola makan dan gaya hidup. Makanan Jepang umumnya banyak mengandung ikan, sayuran, dan nasi. Konsumsi lemak jenuh juga relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah pola makan masyarakat negara-negara Barat.

Aktivitas fisik menjadi bagian lain dari kehidupan sehari-hari. Banyak warga lanjut usia tetap berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, bersepeda, serta melakukan aktivitas peregangan. Namun, umur panjang tersebut berjalan beriringan dengan perubahan besar dalam struktur masyarakat.

Jepang telah mengalami penuaan penduduk selama bertahun-tahun. Salah satu gambaran perubahan itu terlihat dari industri popok. Penjualan popok untuk orang dewasa telah melampaui popok bayi selama lebih dari satu dekade.

Perusahaan juga mulai mengembangkan teknologi yang ditujukan bagi populasi lanjut usia. Salah satunya adalah eksoskeleton bertenaga yang membantu menopang pergerakan bagian tubuh tertentu. Ada pula perangkat kacamata yang dapat menyesuaikan fokus secara otomatis.

Masalah terbesar Jepang bukan sekadar semakin banyak orang yang hidup hingga usia 100 tahun. Negara itu juga semakin kesulitan menggantikan penduduk yang meninggal dengan generasi baru. Agar suatu populasi dapat mempertahankan jumlah penduduknya dalam jangka panjang tanpa memperhitungkan migrasi, rata-rata seorang perempuan perlu melahirkan sekitar 2,1 anak.

Namun, tingkat kesuburan total Jepang tahun lalu turun ke rekor terendah, yakni 1,14 anak per perempuan. Penurunan tersebut ikut mempercepat penyusutan jumlah penduduk.

Menurut Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang, populasi negara itu diperkirakan turun menjadi sekitar 87 juta orang pada 2070. Jumlah tersebut sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan puncak populasi Jepang yang mencapai 128 juta pada 2008.

Pada saat yang sama, penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai sekitar 30 persen populasi Jepang. Proporsi itu diperkirakan mendekati 40 persen pada 2070.

Pemerintah Jepang telah menyebut situasi tersebut sebagai krisis yang mengancam keberlangsungan negara. Perdana Menteri Sanae Takichi menggambarkan penurunan populasi sebagai keadaan darurat yang berlangsung secara perlahan.

Pada 2025, jumlah penduduk Jepang turun di 45 dari 47 prefektur. Hanya dua prefektur yang tidak mengalami penurunan. Laju penyusutan tersebut juga menunjukkan tanda-tanda semakin cepat. Berbagai program dan subsidi telah diluncurkan pemerintah untuk mendorong kaum muda memiliki lebih banyak anak. Namun, kebijakan tersebut sejauh ini belum mampu membalikkan tren kelahiran.

Penyebabnya kompleks. Para ahli antara lain menunjuk pada menurunnya angka pernikahan, meningkatnya jumlah perempuan yang masuk ke dunia kerja, serta semakin mahalnya biaya membesarkan anak.

Jepang sebenarnya mulai membuka ruang lebih besar bagi pekerja asing dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jumlah warga asing masih relatif kecil, yakni sekitar 3 persen dari total populasi. Di sisi lain, penolakan terhadap peningkatan imigrasi masih cukup kuat.

Situasi itu membuat Jepang menghadapi paradoks demografi: masyarakatnya semakin mampu hidup panjang, tetapi semakin sedikit anak yang lahir untuk meneruskan generasi. Jumlah centenarian Jepang sendiri meningkat sangat tajam sejak pemerintah mulai melakukan survei pada 1963.

Saat itu hanya terdapat 153 orang berusia 100 tahun atau lebih. Jumlahnya menembus 1.000 orang pada 1981 dan mencapai 10 ribu pada 1998. Kini jumlah tersebut telah mencapai 107.677 orang.

Data terbaru itu diumumkan menjelang Respect for the Aged Day, hari libur nasional Jepang untuk menghormati warga lanjut usia. Pemerintah memberikan surat pribadi dan cangkir sake tradisional kepada warga yang mencapai usia 100 tahun. Namun, angka centenarian Jepang juga memiliki catatan tersendiri.

Sejumlah penelitian sebelumnya mempertanyakan akurasi data jumlah penduduk berusia 100 tahun di berbagai negara. Kesalahan pencatatan, dokumen kependudukan yang tidak lengkap, serta hilangnya akta kelahiran dapat membuat jumlah centenarian terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Jepang pernah mengalami persoalan tersebut secara serius.

Audit pemerintah terhadap daftar keluarga pada 2010 menemukan lebih dari 230 ribu orang yang tercatat berusia 100 tahun atau lebih tetapi tidak diketahui keberadaannya. Sebagian di antaranya ternyata telah meninggal puluhan tahun sebelumnya.

Kesalahan tersebut dikaitkan dengan buruknya pencatatan administrasi. Ada pula dugaan sebagian keluarga menyembunyikan kematian anggota keluarga lanjut usia agar tetap dapat menerima uang pensiun.

Karena itu, angka 107.677 centenarian bukan sekadar cerita tentang keberhasilan manusia mencapai usia seabad. Bagi Jepang, angka itu sekaligus menjadi cermin perubahan sebuah masyarakat—ketika semakin banyak orang mampu hidup panjang, tetapi semakin sedikit generasi muda yang lahir untuk menopang masa depannya.***

Bagikan:

Iklan