klikwartaku.com
Beranda Internasional Gelombang Panas Ekstrem Bikin Champagne Prancis Lebih Kuat, Kadar Alkohol Bisa Tembus 15 Persen

Gelombang Panas Ekstrem Bikin Champagne Prancis Lebih Kuat, Kadar Alkohol Bisa Tembus 15 Persen

Gelombang panas dan kekeringan membuat kadar gula anggur Champagne meningkat. Produsen Prancis kini diizinkan sementara membuat champagne hingga 15 persen alkohol. Foto: Tangkapan layar YouTube FRANCE 24 English

KLIKWARTAKU — Perubahan iklim mulai terasa di gelas champagne. Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis pada musim panas 2026 membuat buah anggur di kawasan Champagne memiliki kadar gula lebih tinggi dari biasanya. Dampaknya sederhana, tetapi tidak biasa: champagne yang dihasilkan tahun ini berpotensi memiliki kadar alkohol lebih tinggi.

Untuk pertama kalinya, produsen champagne mendapat izin khusus menaikkan batas kadar alkohol. Mereka sementara diperbolehkan menghasilkan champagne dengan kadar alkohol hingga 15 persen, dari batas reguler 13 persen.

Namun, jangan buru-buru membayangkan semua botol champagne tahun ini akan terasa seperti minuman keras. Industri champagne memperkirakan hanya sebagian kecil produksi yang terdampak.

Komite Champagne mengatakan sebagian kecil wine dari panen 2026 kemungkinan memiliki kadar alkohol sekitar 13,1 hingga 13,2 persen setelah proses fermentasi. Angka tersebut sedikit melewati batas regulasi 13 persen. Karena itu, batas sementara dinaikkan menjadi 15 persen khusus untuk produksi tahun ini.

Perubahan kadar alkohol bukan satu-satunya tanda cuaca ekstrem. Musim panen anggur Champagne tahun ini dimulai pada awal Agustus. Pada pertengahan bulan, aktivitas panen sudah meluas. Komite Champagne menyebutnya sebagai panen paling awal yang pernah tercatat di kawasan tersebut.

Musim tanam 2026 juga dianggap sangat tidak biasa. Kawasan penghasil champagne mengalami embun beku musim semi dengan intensitas bersejarah, pembungaan yang datang sangat cepat, serta lima gelombang panas sepanjang musim panas.

Cuaca panas membuat anggur matang lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak gula. Dalam proses fermentasi, gula tersebut diubah menjadi alkohol oleh ragi. Dengan kata lain, semakin tinggi kandungan gula buah anggur, semakin besar pula potensi kadar alkohol wine yang dihasilkan.

Bagi sebagian produsen, kondisi tersebut bukan lagi anomali yang berdiri sendiri. Stéphane Vignon, produsen champagne di Verzenay, mengatakan perubahan iklim mulai menggeser karakter cuaca di wilayah utara Prancis. “Iklim Mediterania bergerak ke utara,” kata Vignon.

Menurut dia, kondisi tahun ini bisa menjadi awal dari siklus baru. “Ini tahun pertama dari siklus baru. Kemungkinan tidak terjadi setiap tahun, tetapi akan terjadi lagi,” ujarnya.

Maxime Toubart, wakil ketua Komite Champagne, bahkan memperkirakan kondisi seperti ini dapat menjadi sesuatu yang biasa dalam satu hingga satu setengah dekade mendatang. Panen yang dianggap ekstrem sekarang, kata dia, kemungkinan menjadi normal dalam 10 sampai 15 tahun.

Ironisnya, champagne yang lebih kuat belum tentu menjadi kabar baik bagi pasar. Kolumnis wine dan penulis Jane Anson memperingatkan bahwa kadar alkohol tinggi bukan daya tarik utama bagi konsumen masa kini. Menurut Anson, semakin banyak konsumen justru memilih wine dengan kadar alkohol lebih rendah.

Di sinilah produsen menghadapi persoalan yang rumit. Alam menghasilkan buah anggur dengan kandungan gula semakin tinggi, sementara selera konsumen bergerak ke arah sebaliknya. “Pertarungan antara keinginan konsumen dan apa yang diberikan alam pasti sangat membuat produsen stres,” kata Anson.

Produsen champagne selama ini harus menjaga keseimbangan antara tingkat kematangan anggur, rasa, keasaman, aroma, dan kadar alkohol. Perubahan suhu membuat keseimbangan tersebut semakin sulit dipertahankan.

Konsumen yang penasaran dengan vintage 2026 masih harus menunggu. Champagne membutuhkan proses pematangan setidaknya 15 bulan sebelum dapat dipasarkan. Karena itu, hasil panen tahun ini diperkirakan baru mulai muncul di pasaran pada 2028.

Saat botol-botol tersebut akhirnya dibuka, konsumen mungkin tidak hanya mencicipi hasil sebuah musim panen. Mereka juga akan mencicipi salah satu tanda perubahan iklim yang paling nyata di industri wine Prancis. Prancis menjadi salah satu negara Eropa yang paling terdampak cuaca ekstrem tahun ini. Gelombang panas turut meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah.

Perubahan iklim meningkatkan suhu rata-rata dunia dan membuat gelombang panas semakin sering serta intens. Dampaknya terasa sangat kuat di Eropa. Menurut layanan iklim Copernicus, Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat, dengan kenaikan suhu sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Di Champagne, perubahan itu kini tidak hanya terlihat pada termometer. Ia terlihat dari kalender panen, terasa dari buah anggur, dan pada akhirnya bisa terukur dari kadar alkohol di dalam botol.***

Bagikan:

Iklan