Harga Kakao Melonjak 36 Persen, Peluang Baru bagi Petani Kalbar Dongkrak Nilai Ekspor
KLIKWARTAKU – Harga referensi (HR) biji kakao untuk periode Agustus 2026 melonjak menjadi USD5.424,96 per metrik ton (MT), naik 36,66 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tajam ini membuka peluang bagi daerah penghasil kakao, termasuk Kalimantan Barat, untuk meningkatkan nilai ekspor dan kesejahteraan petani melalui penguatan sektor perkebunan.
Kementerian Perdagangan juga menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao sebesar USD5.064 per MT atau naik 38,90 persen dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan tersebut mencerminkan tingginya permintaan pasar di tengah terbatasnya pasokan kakao dunia.
Kondisi ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk terus memperkuat pengembangan komoditas kakao. Melalui pembinaan petani, peningkatan produktivitas, serta hilirisasi hasil perkebunan, Kalbar berpeluang memperbesar kontribusi sektor kakao terhadap pertumbuhan ekonomi dan ekspor daerah.
Kementerian Perdagangan menjelaskan, kenaikan HR dan HPE kakao dipengaruhi gangguan pasokan di negara-negara produsen utama Afrika Barat. Produksi kakao di kawasan tersebut menurun akibat serangan hama, cuaca buruk, serta dampak fenomena El Niño.
Selain mempertimbangkan kondisi pasokan global, penetapan HR dan HPE juga memperhitungkan perkembangan biaya logistik internasional serta dinamika perdagangan dunia. Faktor-faktor tersebut mendorong harga kakao internasional bergerak naik secara signifikan.
Untuk periode 1–31 Agustus 2026, pemerintah menetapkan Bea Keluar (BK) biji kakao sebesar 7,5 persen sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38 Tahun 2024 sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor 68 Tahun 2025. Sementara itu, Pungutan Ekspor (PE) biji kakao juga ditetapkan sebesar 7,5 persen berdasarkan PMK Nomor 69 Tahun 2025 sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Bagi Kalimantan Barat yang terus mendorong diversifikasi komoditas perkebunan, tren kenaikan harga kakao menjadi peluang strategis untuk meningkatkan daya saing produk daerah di pasar internasional. Dengan dukungan kebijakan dan pembinaan yang berkelanjutan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, komoditas kakao diharapkan mampu berkembang sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar kelapa sawit.*







