klikwartaku.com
Beranda Internasional Macron dan Starmer Bahas Keamanan Selat Hormuz, AS Tak Dilibatkan

Macron dan Starmer Bahas Keamanan Selat Hormuz, AS Tak Dilibatkan

Prancis dan Inggris menggelar pertemuan internasional membahas keamanan Selat Hormuz tanpa melibatkan AS di tengah dampak ekonomi global. Foto: Tangkapan layar YouTube DRM News

KLIKWARTAKU — Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menggelar pertemuan tingkat tinggi bersama puluhan negara untuk membahas keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, Jumat, 17 April 2026.

Pertemuan yang berlangsung di Istana Elysee, Paris, itu diikuti sekitar 30 hingga 40 negara, baik secara langsung maupun melalui konferensi video. Sejumlah pemimpin Eropa seperti Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni turut hadir.

Forum tersebut membahas rencana pembentukan pasukan maritim multinasional melalui inisiatif bertajuk Inisiatif Kebebasan Navigasi Maritim Selat Hormuz. Misi ini dirancang sebagai langkah defensif untuk menjamin kelancaran jalur perdagangan global setelah konflik di kawasan mereda.

Namun, pertemuan ini berlangsung tanpa melibatkan Amerika Serikat. Ketidakhadiran Washington disebut sebagai langkah disengaja, mengingat misi yang dirancang bersifat netral dan hanya melibatkan negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Selat Hormuz sendiri telah mengalami gangguan serius sejak Iran memberlakukan blokade menyusul perang dengan AS dan Israel pada akhir Februari. Jalur ini selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga penutupannya berdampak luas terhadap ekonomi global.

Para pemimpin Eropa memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan dapat memicu lonjakan inflasi, kelangkaan pangan, serta gangguan transportasi udara akibat terbatasnya pasokan bahan bakar. “Pembukaan kembali selat secara segera dan tanpa syarat adalah tanggung jawab global,” ujar Starmer. Ia menuding Iran telah “menyandera perekonomian dunia” melalui blokade tersebut.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot juga menilai dampak ekonomi dari krisis ini sangat besar, tidak hanya bagi negara-negara Eropa tetapi juga bagi stabilitas perdagangan internasional.

Seorang pejabat Istana Elysee menyebut misi keamanan maritim hanya dapat dijalankan jika terdapat jaminan dari Iran untuk tidak menyerang kapal yang melintas, serta komitmen dari AS untuk tidak memblokir akses pelabuhan Iran.

Rencana ini juga mencerminkan pendekatan Eropa sebelumnya dalam membangun kekuatan keamanan kolektif, seperti dukungan terhadap Ukraina, dengan syarat pengerahan dilakukan setelah situasi konflik mereda.

Ketegangan geopolitik turut dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengkritik sekutu Eropa karena tidak terlibat dalam konflik dan menyebut negara-negara NATO kurang berkontribusi. Di sisi lain, langkah Washington yang memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran dinilai memperburuk situasi dan memperbesar risiko terhadap rantai pasok global.

Persiapan militer untuk misi ini disebut telah berjalan. Inggris dilaporkan mempertimbangkan pengerahan drone pemburu ranjau dari kapal RFA Lyme Bay, sementara Prancis telah mengirimkan kapal induk bertenaga nuklir beserta sejumlah fregat ke kawasan.

Meski demikian, juru bicara militer Prancis Kolonel Guillaume Vernet menegaskan bahwa rencana tersebut masih berada dalam tahap awal dan belum memasuki fase operasional. Dengan meningkatnya tekanan ekonomi global akibat gangguan di Selat Hormuz, negara-negara Eropa kini berupaya mengambil peran lebih besar dalam menjaga stabilitas jalur energi dunia.***

Bagikan:

Iklan