klikwartaku.com
Beranda Internasional Trump Bilang “Suka Inflasi” saat Harga di AS Melonjak Akibat Perang Iran

Trump Bilang “Suka Inflasi” saat Harga di AS Melonjak Akibat Perang Iran

Donald Trump menuai kritik setelah mengatakan “menyukai inflasi” ketika harga-harga di Amerika Serikat naik 4,2 persen akibat perang Iran. Foto: Tangkapan layar YouTube Arirang News

KLIKWARTAKU — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu kontroversi setelah mengatakan dirinya “menyukai inflasi” di tengah kenaikan harga-harga di Amerika Serikat yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Pernyataan itu disampaikan Trump setelah data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat atau Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2 persen pada Mei 2026, meningkat dari 3,8 persen pada April lalu.

Kenaikan harga dipicu lonjakan biaya energi menyusul perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus memanas dalam beberapa bulan terakhir. “Saya menyukainya. Angkanya bagus. Anda tahu apa yang benar-benar saya suka? Saya suka inflasi,” kata Trump di Gedung Putih.

Meski demikian, Trump mengklaim kenaikan harga hanya bersifat sementara dan akan turun drastis setelah konflik dengan Iran berakhir. “Ketika konflik ini selesai, Anda akan melihat harga minyak turun seperti sebelumnya,” ujar Trump kepada wartawan.

Pada hari yang sama, militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir. Trump juga mengklaim operasi militer AS berhasil merebut “jutaan barel minyak” dari Iran sehingga membantu menekan harga minyak global. Namun, harga minyak mentah Brent dunia masih diperdagangkan jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah.

Trump kemudian mengatakan kepada media lokal setempat bahwa ucapannya soal “menyukai inflasi” telah dipelintir. Menurut dia, yang dimaksud adalah tingkat inflasi saat ini lebih rendah dari perkiraan meskipun perang Iran berlangsung.

Inflasi AS tercatat naik selama tiga bulan berturut-turut. Warga Amerika mulai merasakan tekanan akibat meningkatnya harga bahan bakar, listrik, tiket pesawat, layanan kesehatan, hingga kebutuhan komunikasi. Biaya energi secara keseluruhan naik hampir 25 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga bensin menjadi penyumbang utama lonjakan tersebut.

Data kelompok otomotif AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di AS kini mencapai US$ 4,15 per galon atau sekitar Rp67.645 per galon dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS. Angka itu melonjak tajam dibandingkan US$ 2,98 per galon atau sekitar Rp48.574 pada 28 Februari 2026, ketika Trump mulai melancarkan serangan terhadap Iran.

Sebagai respons atas serangan itu, Iran memperketat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan distribusi energi global tersebut turut memperparah tekanan inflasi di berbagai negara.

Inflasi yang lebih tinggi juga meningkatkan kemungkinan bank sentral AS atau Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk menekan pengeluaran masyarakat dan mengendalikan kenaikan harga. Saat ini, suku bunga acuan AS berada di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Ekonom memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan depan. Namun, jika inflasi terus bertahan tinggi, peluang kenaikan suku bunga semakin besar. Kondisi itu menjadi tantangan bagi gubernur baru Federal Reserve, Kevin Warsh, yang pekan depan akan memimpin keputusan suku bunga pertamanya.

Sebelumnya, Trump berkali-kali mendesak mantan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, agar memangkas suku bunga demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Meski inflasi saat ini masih jauh di bawah puncak 9,1 persen yang terjadi pada pertengahan 2022 di era Presiden Joe Biden, kenaikan harga tetap menjadi ancaman politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.

Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, langsung mengkritik komentar Trump. “Penghinaannya terhadap rakyat tidak mengenal batas,” tulis Schumer melalui media sosial X.

Ekonom Capital Economics, Stephen Brown, mengatakan kenaikan inflasi Mei belum cukup kuat untuk memastikan Federal Reserve segera menaikkan suku bunga. Namun, manajer investasi Wealth Club, Isaac Stell, menilai data inflasi terbaru dan pasar tenaga kerja AS yang masih solid membuat kenaikan suku bunga menjadi skenario yang paling masuk akal.***

Bagikan:

Iklan