Trump Dikecam di Jepang karena Gunakan Naruto dan Pokémon untuk Konten Politik
KLIKWARTAKU — Gelombang kritik muncul di Jepang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan karakter anime dan manga populer Jepang dalam sejumlah unggahan media sosial bernuansa politik.
Kontroversi itu berkembang sejak Maret 2026 ketika para penggemar anime mulai menyadari akun resmi Gedung Putih dan Donald Trump memakai gambar karakter ikonik Jepang seperti Naruto, Pikachu, Dragon Ball, hingga Yu-Gi-Oh! dalam berbagai unggahan video dan poster digital.
Kemarahan publik semakin membesar setelah Trump mengunggah video di platform Truth Social pada Sabtu lalu yang menampilkan dirinya sebagai Naruto Uzumaki, tokoh utama serial anime dan manga terkenal Naruto. Tak sedikit penggemar menilai penggunaan karakter tersebut bertentangan dengan pesan moral yang dibawa karya-karya anime Jepang.
Sebuah petisi daring yang menuntut Trump dan Gedung Putih menghormati karya manga Jepang kini telah ditandatangani hampir 20 ribu orang. Para penandatangan menilai Trump tidak merepresentasikan nilai keberanian, persahabatan, pengorbanan, dan ketekunan yang selama ini menjadi pesan utama karakter anime tersebut.
Kontroversi bermula ketika akun resmi Gedung Putih di platform X mengunggah video yang menggabungkan cuplikan serangan militer Amerika Serikat ke Iran dengan adegan dari anime Yu-Gi-Oh! dan Dragon Ball. Sehari sebelumnya, akun yang sama juga mengunggah gambar bertuliskan slogan “Make America Great Again” di atas tangkapan layar yang menyerupai gim Pokémon Pokopia.
Nana Suzuki, warga Prefektur Kanagawa yang memprakarsai petisi tersebut, mengatakan dirinya kecewa berat karena karya-karya anime dipakai dalam konteks militer dan politik. “Kazuki Takahashi, pencipta Yu-Gi-Oh!, meninggal saat mencoba menyelamatkan seseorang di laut. Sangat menyedihkan melihat semangat kemanusiaannya digunakan dalam konteks militer,” kata Suzuki.
Suzuki menyebut dirinya ingin menyediakan ruang bagi para penggemar anime yang merasa karya kreator Jepang tidak seharusnya dipakai untuk agenda politik. Menurut dia, karakter anime Jepang membawa pesan universal tentang harapan dan solidaritas yang tidak boleh disalahgunakan.
Meski demikian, sebagian kecil penggemar justru menganggap penggunaan karakter anime oleh Trump sebagai bentuk popularitas global budaya Jepang. Seorang pengguna X menyebut unggahan Trump sebagai “promosi gratis terbesar di dunia” bagi anime Naruto. Pengguna lain mengatakan dirinya bangga karena manga Jepang telah mendunia hingga dikenal Presiden Amerika Serikat.
Namun kritik juga datang dari pemegang hak cipta resmi. Pokémon Company International menegaskan pihaknya tidak pernah memberikan izin kepada Gedung Putih untuk menggunakan karakter Pokémon dalam unggahan politik tersebut. “Kami tidak terlibat dalam pembuatan maupun distribusi konten itu,” kata juru bicara Pokémon Company International, Sravanthi Dev.
Ia menambahkan misi Pokémon adalah menyatukan masyarakat dunia dan tidak berafiliasi dengan agenda politik apa pun. Hingga kini Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik tersebut.
Kontroversi ini kembali memicu perdebatan global mengenai penggunaan budaya populer dan karakter hiburan untuk kepentingan politik, terutama tanpa persetujuan kreator maupun pemegang hak cipta resmi.***








