klikwartaku.com
Beranda Lifestyle Prabowo Singgung Wartawan, LSM hingga Pengamat, Publik Ramai Bahas Istilah ‘Londo Ireng’

Prabowo Singgung Wartawan, LSM hingga Pengamat, Publik Ramai Bahas Istilah ‘Londo Ireng’

KLIK WARTAKU – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan pernyataan keras yang langsung memantik perhatian publik saat menghadiri Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis (24/7). Dalam pidatonya, Prabowo menyebut sosok yang dahulu dikenal pada masa kolonial sebagai “Londo Ireng” masih ada hingga sekarang, meski menurutnya tampil dengan wajah dan atribut yang berbeda.

Istilah Londo Ireng dalam sejarah Indonesia merujuk kepada pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda atau dinilai mengkhianati kepentingan bangsanya sendiri.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa fenomena tersebut menurut pandangannya masih dapat ditemui pada masa kini.

“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut sontak menjadi sorotan karena secara eksplisit menyinggung profesi wartawan, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Prabowo juga menilai sejak era penjajahan selalu ada kelompok yang menurutnya lebih memilih mengabdi kepada kepentingan asing dibanding kepentingan nasional.

Tak berhenti di situ, Kepala Negara juga melontarkan kritik terhadap sebagian media massa yang menurutnya lebih memilih menyoroti kekurangan dibanding capaian pemerintah.

Prabowo mengungkapkan pemerintah telah melakukan renovasi terhadap lebih dari 67 ribu gedung sekolah di berbagai daerah. Bahkan, ia menginstruksikan agar pada tahun depan jumlah sekolah yang diperbaiki meningkat hingga 100 ribu sekolah.

Namun, menurutnya masih ada media yang lebih memilih menampilkan sekolah yang belum tersentuh renovasi sebagai berita utama.

“Walaupun kita sudah perbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia foto besar, taruh di halaman pertama,” kata Prabowo.

Meski menyampaikan kritik tersebut, Prabowo tidak menyebut secara spesifik media mana yang dimaksud. Ia hanya mengatakan masyarakat dinilai sudah memahami pihak yang ia singgung.

Presiden juga menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik. Namun, menurutnya kritik seharusnya disampaikan secara objektif dan tidak mengabaikan capaian yang telah dilakukan pemerintah.

Selain menyoroti media, Prabowo juga mengkritik narasi yang selama ini memprediksi Indonesia akan mengalami keruntuhan ekonomi atau collapse. Ia menyebut prediksi tersebut terus berulang dari bulan ke bulan, tetapi hingga kini tidak pernah terbukti.

“Indonesia akan kolaps. April kolaps, lewat tidak kolaps. Mei kolaps, lewat tidak kolaps. Juni kolaps, Juli kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” ujarnya.

Pidato Prabowo tersebut kini menjadi bahan perbincangan luas di ruang publik. Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk kritik terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan nasional, sementara pihak lain menilai penyebutan profesi tertentu berpotensi memicu polemik mengenai kebebasan pers dan ruang kritik dalam demokrasi.

 

Bagikan:

Iklan