klikwartaku.com
Beranda Metropolitan Krimhum Hotspot Kalbar Menurun Tajam, 53 Armada Udara Tetap Disiagakan

Hotspot Kalbar Menurun Tajam, 53 Armada Udara Tetap Disiagakan

FOTO: Satgas Gakkum Satreskrim Polres Kubu Raya menyelidiki kebakaran lahan di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT Pinang Witmas Abadi, Desa Pasak Tiang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. (Humas Polres Kubu Raya)

KLIKWARTAKU — Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan pemantauan terbaru Kementerian Kehutanan, hotspot tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Kalbar turun dari 134 titik menjadi 39 titik.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kehuatan, pada Jumat 11 September 2026. Meski menunjukkan perkembangan positif, Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan tetap memperkuat operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat, hingga Kamis 10 September 2026 pukul 21.05 WIB, secara nasional terdeteksi 569 hotspot high confidence. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 395 titik.

Dari enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 96 titik. Disusul Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan sembilan titik, dan Jambi dua titik.

Penurunan hotspot paling menonjol terjadi di Kalimantan Barat, dari 134 titik menjadi 39 titik.

Sementara itu, tingginya jumlah hotspot di Kalimantan Tengah membuat penguatan patroli, groundcheck, pemadaman, dan dukungan operasi udara terus dilakukan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan perkembangan hotspot bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun bahan bakar di lapangan.

Hotspot sendiri merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terkait terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan di lokasi yang masih berpotensi mengalami penyalaan kembali.

Untuk mendukung operasi tersebut, pemerintah menyiagakan 53 unit armada udara di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Dari 53 armada tersebut, sebanyak 34 unit digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 unit lainnya digunakan untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan hasil pemantauan hotspot, verifikasi kondisi lapangan, perkembangan kebakaran, serta kondisi meteorologis.

OMC juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan sekaligus mendukung operasi pengendalian karhutla.

Khusus pada ekosistem gambut, pembasahan dan pendinginan menjadi perhatian karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.

Selain memantau hotspot dan kondisi api, pemerintah juga terus memantau kualitas udara sebagai indikator dampak karhutla terhadap masyarakat.

Berdasarkan pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori kualitas udara baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, pada sebagian wilayah di Kalimantan terpantau kategori berbahaya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan dalam menentukan prioritas operasi pengendalian, bersama dengan perkembangan hotspot, kondisi kebakaran, cuaca, dan sebaran asap.

Berdasarkan pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada 10 September 2026 pukul 10.00 WIB, asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas.

Di Pontianak, jarak pandang tercatat sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap. Palangka Raya sekitar tiga kilometer dengan kondisi berasap, sedangkan Jambi sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap.

Sementara itu, Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar enam kilometer dengan kondisi cerah berawan. Palembang memiliki jarak pandang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.

Di Banjarmasin, berdasarkan pengamatan pukul 11.00 WITA, jarak pandang tercatat 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.

Kondisi di Pontianak dan Palangka Raya masih menjadi perhatian karena jarak pandang terpantau terbatas dan disertai kondisi berasap. Namun, kondisi jarak pandang bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah serta kecepatan angin, kelembapan, hujan, dan perkembangan kebakaran di lapangan.

Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait akan terus melakukan pemantauan terpadu terhadap hotspot, kondisi kebakaran, kualitas udara, cuaca, curah hujan, sebaran asap, dan jarak pandang untuk menentukan prioritas operasi berikutnya.

Masyarakat juga diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.***

Bagikan:

Iklan