klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Kredit Tumbuh 12,67 Persen, BI Dorong Pembiayaan Produktif untuk UMKM

Kredit Tumbuh 12,67 Persen, BI Dorong Pembiayaan Produktif untuk UMKM

ilustrasi penawaran kredit perbankan

KLIK WARTAKU – Pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 menunjukkan penguatan dengan mencatat kenaikan 12,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Bank Indonesia menilai peningkatan tersebut menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, penguatan pembiayaan tidak lagi hanya diarahkan pada peningkatan jumlah kredit, melainkan transformasi menuju pembiayaan berkualitas yang mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing dunia usaha.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan pembiayaan harus memberikan manfaat nyata bagi pelaku ekonomi, mulai dari perusahaan besar hingga pelaku usaha kecil di berbagai daerah.

“Dampak kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang, petani, pengrajin, dan wirausaha muda di berbagai daerah,” ujar Destry.

Dalam seminar nasional bertajuk “Menjaga Stabilitas, Memperkuat Sinergi, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pembiayaan Produktif” di Jakarta, Jumat (24/7), Destry menjelaskan bahwa arah kebijakan pembiayaan perlu mengalami perubahan.

Menurutnya, transformasi diperlukan dari pembiayaan yang hanya mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang memiliki dampak ekonomi lebih luas.

Selain itu, pendekatan pembiayaan juga perlu bergeser dari model individual menuju pembiayaan berbasis ekosistem yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Penguatan pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu prioritas dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.

Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting menyampaikan UMKM memiliki peran strategis sebagai penggerak perekonomian.

Pemerintah, kata dia, terus memperluas akses pembiayaan sekaligus meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM melalui berbagai program.

Beberapa program yang diperkuat antara lain:

  • pengembangan Kredit Usaha Rakyat (KUR);
  • dukungan UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG);
  • pembentukan holding UMKM.

Upaya tersebut diarahkan agar UMKM tidak hanya memperoleh akses modal, tetapi juga mampu berkembang dalam rantai pasok ekonomi yang lebih besar.

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan untuk memperluas pembiayaan sektor prioritas melalui berbagai instrumen.

Salah satunya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).

Dari sisi sistem pembayaran, Bank Indonesia juga memperluas digitalisasi melalui:

  • QRIS;
  • BI-FAST;
  • SNAP.

Digitalisasi tersebut diharapkan mempercepat integrasi pelaku usaha, khususnya UMKM, ke dalam ekosistem keuangan formal.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit Juni 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada Mei 2026, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 11,51 persen (yoy). Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 12,67 persen (yoy) pada Juni 2026.

Pertumbuhan kredit terutama didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi mencapai 24,90 persen (yoy).

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas pembiayaan untuk kebutuhan investasi dunia usaha.

Ekonom perbankan Josua Pardede menilai pertumbuhan kredit yang positif perlu terus diarahkan kepada sektor yang memberikan nilai tambah lebih tinggi, khususnya industri pengolahan.

Menurutnya, penguatan pembiayaan UMKM membutuhkan sinergi antara kebijakan regulator, pemerintah, dan industri perbankan.

“Kredit UMKM diharapkan dapat terus didorong melalui sinergi implementasi POJK Kredit UMKM, insentif likuiditas kebijakan Bank Indonesia, serta program prioritas Pemerintah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar oleh perbankan,” ujar Josua.

Ia menilai stabilitas sektor perbankan menjadi faktor penting agar pembiayaan produktif, terutama modal kerja UMKM, dapat terus berkembang.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 8–12 persen.

Optimisme tersebut didukung masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan.

Nilainya mencapai Rp2.490 triliun atau sekitar 21,52 persen dari plafon kredit yang tersedia.

Dari sisi perbankan, minat penyaluran kredit (lending appetite) juga masih terbuka. Kondisi ini didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 10,21 persen (yoy).

Bank Indonesia menegaskan penguatan pembiayaan produktif membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Sinergi akan terus dilakukan bersama pemerintah, DPR RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kementerian dan lembaga, industri perbankan, dunia usaha, akademisi, serta media.

Melalui pembiayaan yang lebih inklusif dan produktif, kebijakan ekonomi diharapkan tidak hanya meningkatkan angka pertumbuhan kredit, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.

Data Utama Pertumbuhan Kredit Juni 2026

Indikator Nilai
Pertumbuhan kredit Juni 2026 12,67% yoy
Pertumbuhan kredit Mei 2026 11,51% yoy
Pertumbuhan kredit investasi 24,90% yoy
Target pertumbuhan kredit 2026 8–12%
Undisbursed loan Rp2.490 triliun
Pertumbuhan DPK 10,21% yoy

Bagikan:

Iklan