klikwartaku.com
Beranda Internasional Kekalahan Afrika Selatan di Piala Dunia Disorot, Netizen Afrika Ramai Dukung Meksiko dan Sindir Isu Xenofobia

Kekalahan Afrika Selatan di Piala Dunia Disorot, Netizen Afrika Ramai Dukung Meksiko dan Sindir Isu Xenofobia

Kekalahan Afrika Selatan dari Meksiko di Piala Dunia diwarnai gelombang dukungan netizen Afrika kepada Meksiko sebagai bentuk protes terhadap isu xenofobia di Afrika Selatan. Foto: Tangkapan layar YouTube APT

KLIKWARTAKU — Kekalahan Afrika Selatan dari Meksiko pada laga pembuka Piala Dunia 2026 memicu gelombang reaksi di media sosial. Alih-alih mendapat dukungan penuh dari sesama negara Afrika, tim berjuluk Bafana Bafana justru menjadi sasaran sindiran netizen lintas benua terkait isu xenofobia terhadap migran di Afrika Selatan.

Afrika Selatan kalah 0-2 dari Meksiko dalam pertandingan pembuka turnamen yang digelar di negara tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada itu. Seusai laga, media sosial dipenuhi meme dan komentar bernada satire yang menunjukkan dukungan terhadap Meksiko.

Berbagai unggahan menampilkan simbol budaya Meksiko seperti sombrero, mariachi, hingga taco. Banyak pengguna media sosial mengganti foto profil dengan bendera Meksiko dan menggunakan nama bernuansa Spanyol di bawah slogan “Mexico versus xenophobia”.

Fenomena itu disebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan terhadap migran di Afrika Selatan dalam beberapa pekan terakhir. “Kenapa kami harus mendukung kalian hanya karena sama-sama dari Afrika?” tulis salah satu pengguna platform X sambil menyinggung laporan perlakuan buruk terhadap migran di Afrika Selatan.

Pengguna lain menulis bahwa mereka mendukung Meksiko agar Afrika Selatan “cepat pulang untuk menjaga pekerjaan mereka sendiri”, menyindir tuduhan yang kerap diarahkan kepada migran terkait tingginya angka pengangguran di negara tersebut.

Pengacara Kenya Ahmednasir Abdullahi juga ikut mengomentari hasil pertandingan tersebut. “Saya harap Afrika Selatan tidak menyalahkan migran Afrika atas kekalahan 0-2 dan dua kartu merah melawan Meksiko,” tulisnya di media sosial.

Meski demikian, tidak semua warga Afrika mendukung aksi sindiran tersebut. Sejumlah penggemar sepak bola tetap memberikan dukungan kepada Afrika Selatan sebagai wakil benua Afrika di Piala Dunia.

Daniel Kaniki, pendukung sepak bola asal Republik Demokratik Kongo yang menyaksikan pertandingan di area fan park di Atlanta, Amerika Serikat, mengatakan solidaritas Afrika semestinya tetap dijaga. “Afrika seperti satu negara. Jika ada yang mengusir sesama warga Afrika, berarti kita bukan keluarga lagi. Karena itu saya mendukung Meksiko hari ini,” kata Kaniki.

Sementara itu, warga Ghana bernama Vanlare Quist justru memilih mendukung Afrika Selatan. Ia menyebut sentimen anti-migran di negara tersebut tidak mewakili seluruh rakyat Afrika Selatan.

Di Sudan Selatan, dukungan terhadap Bafana Bafana juga terlihat di sejumlah lokasi nonton bareng di ibu kota Juba. Banyak warga Sudan Selatan memiliki kedekatan emosional dengan Afrika Selatan karena mengaitkan perjuangan anti-apartheid dengan perjuangan kemerdekaan mereka dari Sudan.

“Sebagai warga Sudan Selatan, kami tetap mendukung Afrika Selatan karena mereka mewakili Afrika. Semua negara Afrika harus mendukung mereka selama Piala Dunia,” kata mahasiswa berusia 23 tahun, George Kenyi Charles Rehan.

Pemerintah Afrika Selatan melalui pernyataan resmi tetap memuji penampilan tim nasionalnya meski kalah dari Meksiko. “Bafana Bafana telah mewakili Afrika Selatan dengan persatuan, determinasi, dan kebanggaan di panggung terbesar dunia,” demikian pernyataan pemerintah.

Di sisi lain, warganet Afrika Selatan merespons balik sindiran yang ramai beredar di media sosial. “Kami lolos ke Piala Dunia tanpa dukungan kalian. Menang atau kalah kami tetap mencintai negara kami,” tulis salah satu pengguna media sosial. Komentar lain menyatakan bahwa siapa pun boleh mendukung Meksiko, namun migran diminta datang ke Afrika Selatan secara legal.

Ketegangan terkait migran di Afrika Selatan memang meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kelompok anti-migran bahkan menetapkan tenggat hingga 30 Juni 2026 bagi warga asing ilegal untuk meninggalkan negara tersebut.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa sebelumnya memperingatkan masyarakat agar tidak main hakim sendiri. Ia menegaskan hanya aparat pemerintah yang berwenang menindak pelanggaran hukum. Namun Ramaphosa juga mengatakan keresahan masyarakat terkait migrasi “layak didengar dan ditangani”.

Sejumlah negara Afrika mulai mengevakuasi warganya dari Afrika Selatan menyusul meningkatnya ancaman kekerasan terhadap migran. Nigeria menjadi negara terbaru yang memulangkan sebagian warganya. Sebelumnya Ghana, Zimbabwe, dan Malawi juga telah melakukan langkah serupa.

Sentimen anti-migran di Afrika Selatan meningkat seiring tingginya angka pengangguran yang kini berada di atas 30 persen. Kondisi itu memicu demonstrasi dan serangan xenofobia di sejumlah kota besar.***

Bagikan:

Iklan