klikwartaku.com
Beranda Internasional Trump dan Iran Saling Ancam usai Serangan Balasan di Teluk Persia

Trump dan Iran Saling Ancam usai Serangan Balasan di Teluk Persia

Donald Trump dan pejabat Iran saling melontarkan ancaman baru setelah serangan militer balasan terjadi di kawasan Teluk Persia. Konflik memicu ketegangan baru di Timur Tengah. Foto: Tangkapan layar YouTube CBS News

KLIKWARTAKU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat tinggi Iran kembali saling melontarkan ancaman setelah kedua negara terlibat serangan militer balasan di kawasan Timur Tengah. Trump menegaskan Iran harus “membayar harga” karena dinilai terlalu lama bernegosiasi dengan Washington terkait penyelesaian konflik yang terus memanas di kawasan Teluk Persia.

“Iran sudah terlalu lama menunda kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan mereka. Sekarang mereka harus membayar harganya,” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Rabu, 10 Juni 2026.

Trump juga mengklaim militer Iran telah “sepenuhnya dikalahkan”. Ia menyebut kekuatan angkatan laut dan angkatan udara Iran nyaris tidak lagi berfungsi.

Pernyataan itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran tidak akan membiarkan serangan ataupun ancaman tanpa balasan. “Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa respons,” kata Araghchi sebelumnya.

Ia juga menilai Amerika Serikat mengalami “kekalahan di medan perang” meskipun Washington terus menggencarkan tekanan militer terhadap Iran.

Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas pertahanan Iran pada Selasa, 9 Juni 2026. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik AS di kawasan Selat Hormuz sehari sebelumnya.

Centcom menyebut target serangan meliputi sistem pertahanan udara Iran, pusat kendali radar, serta fasilitas militer di sekitar Selat Hormuz. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim meluncurkan serangan ke 21 target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Serangan disebut menyasar pangkalan militer AS di Bahrain dan Yordania. Sementara militer Kuwait menyatakan pihaknya turut mencegat serangan yang mengarah ke wilayahnya. Trump sebelumnya mengungkapkan helikopter Apache AS ditembak saat melakukan patroli di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang sejak konflik pecah pada Februari lalu berada dalam situasi genting.

Menurut laporan media internasional, Trump mengatakan helikopter tersebut terkena serangan drone Iran ketika terbang rendah. Namun drone itu disebut tidak meledak. Dua awak helikopter berhasil selamat dan dievakuasi menggunakan drone laut milik Amerika Serikat.

Meski demikian, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan Teheran belum mengklaim bertanggung jawab atas insiden jatuhnya helikopter tersebut. IRGC menyebut serangan udara Amerika Serikat menghantam wilayah Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm. Serangan itu dilaporkan merusak menara telekomunikasi dan dua tangki air.

Sementara itu, media internasional mengutip pejabat AS yang menyebut hampir seluruh rudal dan drone Iran yang diluncurkan ke pangkalan militer Amerika di Timur Tengah berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban jiwa.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk. Konflik terus meluas hingga menyeret Lebanon ke dalam peperangan pada Maret lalu.

Pada April 2026, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun bentrokan sporadis masih terus terjadi hingga sekarang. Di tengah meningkatnya ketegangan, perwakilan Iran dan Amerika Serikat diketahui masih menjalani negosiasi diplomatik untuk mencari solusi permanen atas konflik tersebut, termasuk melalui pertemuan di Pakistan.

Konflik terbaru ini kembali memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas keamanan dan jalur perdagangan energi global di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.***

Bagikan:

Iklan