Israel Hancurkan Kota Bersejarah Tyre di Lebanon, Citra Satelit Ungkap Kerusakan Luas
KLIKWARTAKU — Citra satelit terbaru menunjukkan kehancuran luas di kota pesisir bersejarah Tyre, Lebanon selatan, setelah gelombang serangan udara Israel yang terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Analisis data satelit yang membandingkan kondisi wilayah antara 4 Januari hingga 4 Juni 2026 memperlihatkan kerusakan besar pada kawasan permukiman, infrastruktur sipil, hingga area penyangga Situs Warisan Dunia UNESCO di kota tersebut.
Laporan analisis citra yang dipublikasikan unit sumber terbuka media internasional mengungkap pola penghancuran dan perataan lahan di sejumlah blok sipil yang sebelumnya padat penduduk. Bangunan bertingkat di beberapa kawasan dilaporkan berubah menjadi lahan rata penuh puing akibat serangan udara dan operasi militer.
Tyre berada sekitar 11 kilometer dari zona penyangga yang diberlakukan Israel di sepanjang perbatasan Lebanon selatan. Kebijakan yang disebut “Garis Kuning” itu melarang warga kembali ke area yang ditetapkan sebagai zona militer. Kota kuno Tyre yang berusia hampir 5.000 tahun kini berada di garis depan eskalasi konflik di Lebanon selatan.
Dinas pertahanan sipil Lebanon selatan menyebut sedikitnya enam orang tewas dalam serangan terbaru Israel di Tayr Debba, wilayah distrik Tyre, pada Rabu waktu setempat. Sehari sebelumnya, sekitar 20 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan Israel di wilayah Lebanon selatan meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih berlaku.
Sejak 2 Maret 2026, lebih dari 3.600 orang dilaporkan tewas dan sekitar 1,2 juta warga mengungsi akibat operasi militer Israel di Lebanon. Pemerintah kota Tyre mencatat sedikitnya 31 serangan udara langsung menghantam wilayah tersebut sejak awal Maret.
Serangan itu menyebabkan sedikitnya 25 bangunan tempat tinggal rusak berat hingga runtuh, serta merusak jaringan listrik, saluran telepon, stasiun air, dan sistem pembuangan limbah.
Arkeolog Lebanon Joanne Bajjaly menilai skala kerusakan kali ini jauh melampaui konflik sebelumnya pada 1982 maupun perang Lebanon-Israel 2006. “Israel sedang melakukan penghapusan terhadap suatu bangsa dan ingatan mereka dari muka bumi,” kata Bajjaly.
Ia menyebut penghancuran tersebut tidak hanya menyasar infrastruktur sipil, tetapi juga situs bersejarah, makam, kawasan budaya, sekolah, hingga pasar tua. Kerusakan juga terdeteksi di dekat situs arkeologi Tyre yang telah masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1984.
Data satelit menunjukkan sejumlah bangunan di sekitar kawasan bersejarah itu terkena dampak serangan hanya beberapa meter dari zona perlindungan budaya internasional. Kementerian Kebudayaan Lebanon mengecam serangan tersebut dan menegaskan bahwa Tyre merupakan kota kuno yang menyimpan hampir 5.000 tahun sejarah peradaban manusia.
Selain kawasan budaya, serangan juga menghantam kamp pengungsi Palestina di el-Buss yang berada di wilayah Tyre. Citra satelit memperlihatkan sejumlah bangunan di kamp resmi UNRWA tersebut hancur, termasuk kerusakan berat pada sekolah menengah setempat.
Tiga kamp pengungsi Palestina di distrik Tyre, yakni Rashidieh, el-Buss, dan Burj Shemali, diketahui menampung sekitar 28 ribu pengungsi. UNRWA menyebut sepertiga penghuni kamp telah mengungsi akibat intensitas pemboman yang terus meningkat.
Gelombang pengungsian dari Tyre juga memicu tekanan baru terhadap wilayah lain di Lebanon seperti Sidon, Beirut, hingga Tripoli dan Akkar di bagian utara. Kamp pengungsi di Sidon dan Beirut dilaporkan mulai kewalahan menghadapi lonjakan warga yang membutuhkan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Situasi tersebut memperlihatkan memburuknya kondisi kemanusiaan di Lebanon selatan di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di kawasan perbatasan.***









