klikwartaku.com
Beranda Lifestyle Ramai di TikTok, Emoji Moai Diklaim Berarti Sayang, Ini Asal-usul Sebenarnya

Ramai di TikTok, Emoji Moai Diklaim Berarti Sayang, Ini Asal-usul Sebenarnya

Gambar Ilustrasi Emoji Moai Batu trending di media sosial TikTok dan WhatsApp

KLIK WARTAKU – Bahasa komunikasi digital terus berevolusi dengan kecepatan yang sulit diprediksi, terutama di tangan Generasi Z. Terbaru, jagat media sosial—khususnya TikTok—diramaikan oleh fenomena unik yang membingungkan banyak pengguna lintas generasi. Emoji Batu Moai, yang selama ini dikenal sebagai simbol wajah datar atau ekspresi stoik, mendadak diklaim memiliki makna baru: “Sayang.”

Tren ini menyebar masif di kolom komentar TikTok hingga percakapan aplikasi pesan instan. Sejumlah remaja terlihat menyisipkan emoji Batu Moai di akhir kalimat romantis, ucapan selamat malam, bahkan sapaan kepada pasangan mereka. Namun, benarkah makna emoji ini telah bergeser secara linguistik, atau justru hanya mitos digital yang telanjur dipercaya?

Asal-usul Kebingungan: Glitch Terjemahan yang Viral

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa perubahan makna emoji tidak lahir dari kesepakatan budaya yang alami, melainkan berawal dari kesalahpahaman teknis yang terlanjur viral.

Sumber utama kehebohan ini berasal dari sebuah video TikTok yang menampilkan tangkapan layar Google Translate. Dalam video tersebut, emoji batu dimasukkan sebagai teks, lalu diterjemahkan dari Bahasa Yunani ke Bahasa Indonesia. Hasil terjemahan yang muncul secara tidak akurat adalah kata “sayang.”

Video ini kemudian menyebar luas tanpa verifikasi lanjutan. Banyak pengguna Gen Z langsung mempercayainya dan menjadikannya rujukan bersama. Akibatnya, narasi bahwa “emoji batu = sayang” menjelma menjadi semacam “kebenaran baru” di ruang digital mereka.

Seorang warganet menulis, “Bro baru ingat emot batu bermaksud sayang. Pernah ada video yang jelasin.”

Pengguna lain mengaku ragu namun tetap mengikuti tren, “Iya udah pernah lihat VT-nya. Mau pakai emot itu takut banget ada yang tahu artinya, padahal maksudnya kayak.”

Makna Asli dan Sejarah Emoji Moai Batu Moai

Secara historis dan resmi, emoji sama sekali tidak memiliki makna romantis.

Emoji ini merepresentasikan Moai, patung monolitik raksasa buatan suku Rapa Nui di Pulau Paskah (Easter Island), Chili. Emoji  diperkenalkan secara resmi ke dalam standar Unicode 6.0 pada tahun 2010.

Menariknya, desain emoji ini di banyak platform digital juga terinspirasi dari Patung Moyai di Stasiun Shibuya, Jepang, yang memiliki kemiripan bentuk namun dengan fitur bibir lebih tebal dibanding Moai asli.

Dalam budaya internet global sebelum 2026, emoji lazim digunakan dengan beberapa makna berikut:

  1. Ekspresi Datar (Deadpan) – respons terhadap candaan garing atau situasi canggung.
  2. Stoik atau Tabah – menunjukkan ketenangan dan sikap tidak reaktif.
  3. Kekuatan dan Keteguhan – sering diasosiasikan dengan meme “Sigma” atau “Chad”.
  4. Misterius – karena ekspresinya sulit ditafsirkan.

Tak satu pun makna tersebut berkaitan dengan ungkapan cinta atau kasih sayang.

Psikologi Gen Z dan Pergeseran Makna Simbol

Fenomena “Batu = Sayang” menarik dikaji dari sudut pandang psikologi komunikasi digital. Generasi Z dikenal gemar menciptakan kode simbolik atau bahasa internal yang hanya dipahami oleh kelompok mereka sendiri. Ini kerap berfungsi sebagai bentuk enkripsi sosial, agar komunikasi tidak mudah dimengerti oleh generasi yang lebih tua.

Meski berasal dari informasi keliru, penggunaan emoji sebagai simbol kasih sayang menunjukkan betapa cair dan lenturnya makna simbol di era digital. Dalam praktik komunikasi, makna sering kali menjadi sah bukan karena kamus, melainkan karena kesepakatan sosial komunitas.

Selain itu, ironi juga berperan besar. Emoji yang identik dengan kesan keras, dingin, dan tanpa emosi justru digunakan untuk menyampaikan rasa sayang. Bagi Gen Z, penggunaan emoji hati dianggap terlalu mainstream atau bahkan cringe. Emoji terasa lebih lowkey, absurd, dan khas selera humor mereka.

Ikuti Tren atau Tetap Logis?

Pada akhirnya, bahasa adalah kesepakatan sosial. Jika Anda menerima pesan “Selamat malam” dari pasangan Gen Z, jangan langsung mengira mereka sedang marah atau bersikap dingin. Bisa jadi, itu justru ungkapan sayang versi mereka.

Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa secara linguistik dan historis, tidak ada hubungan antara patung batu purbakala di Samudra Pasifik dengan makna romantis. Tren ini menjadi contoh nyata bagaimana misinformasi digital dapat dengan mudah berubah menjadi budaya populer hanya melalui satu video viral.

Menggunakannya untuk bercanda sah-sah saja, asalkan tetap paham konteks. Di luar gelembung media sosial Indonesia, dunia masih memaknai emoji sebagai wajah batu yang diam seribu bahasa.

 

Bagikan:

Iklan