klikwartaku.com
Beranda Lifestyle Mengapa Kita Ingin Mengubah Pasangan? Ini 7 Alasannya Menurut Psikologi

Mengapa Kita Ingin Mengubah Pasangan? Ini 7 Alasannya Menurut Psikologi

Gambar Pasangan pria dan wanita sedang berbincang dalam hubungan romantis

KLIKWARTAKU.COM – Dalam sebuah hubungan romantis, berharap pasangan menjadi pribadi yang lebih baik sebenarnya merupakan hal yang wajar. Seseorang mungkin ingin pasangannya lebih bertanggung jawab, lebih terbuka dalam berkomunikasi, lebih disiplin, lebih perhatian, atau meninggalkan kebiasaan yang dianggap merugikan.

Namun, ada satu batas penting yang perlu dipahami: mendukung pasangan untuk berkembang berbeda dengan berusaha mengubah pasangan sesuai keinginan kita.

Keinginan untuk mengubah pasangan ternyata bisa memiliki banyak alasan. Tidak selalu karena niat buruk, bahkan dalam beberapa kondisi bisa muncul dari rasa cinta dan kepedulian.

Tetapi di balik keinginan tersebut, bisa pula terdapat rasa takut kehilangan, kebutuhan akan rasa aman, ekspektasi yang terlalu tinggi, pengalaman masa lalu, hingga keinginan untuk mengontrol pasangan.

Dilansir dari Psychology Today pada 9 September, ada sejumlah alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa seseorang memiliki keinginan untuk mengubah pasangannya.

1. Karena Benar-Benar Peduli dan Ingin Melihat Pasangan Berkembang

Alasan pertama bisa saja sangat sederhana, yakni karena peduli.

Ketika mencintai seseorang, kita tentu ingin melihat orang tersebut memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena itu, seseorang mungkin berusaha mendorong pasangannya untuk memperbaiki kebiasaan atau mengembangkan dirinya.

Misalnya, pasangan memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, kurang menjaga kesehatan, atau kesulitan mengatur keuangan. Dalam kondisi seperti ini, dukungan, masukan, dan ajakan mencari solusi dapat menjadi bentuk kepedulian.

Hal tersebut tidak selalu bermasalah.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan memang dapat menjadi sumber dukungan untuk berkembang. Hubungan juga bisa menjadi tempat bagi dua orang untuk belajar, melakukan refleksi, dan membangun kebiasaan yang lebih baik.

Namun, batasnya harus jelas.

Mendukung perubahan tidak sama dengan memaksakan perubahan.

“Aku tahu kamu bisa menjadi lebih baik dan aku akan mendukungmu kalau kamu ingin berubah,” tentu berbeda dengan, “Kamu harus berubah karena aku tidak suka dirimu yang sekarang.”

Perbedaannya terletak pada penghormatan terhadap pilihan dan otonomi pasangan.

Kita boleh memberikan masukan, tetapi pasangan tetap memiliki hak untuk menentukan apakah dirinya ingin berubah atau tidak.

2. Memaksakan Standar dan Nilai Pribadi kepada Pasangan

Setiap orang memiliki latar belakang berbeda. Ada yang tumbuh dalam keluarga dengan aturan ketat, ada pula yang terbiasa dengan kebebasan.

Perbedaan pendidikan, budaya, pengalaman, dan lingkungan membuat seseorang memiliki pandangan berbeda mengenai hubungan yang ideal.

Misalnya, seseorang menganggap pasangan yang baik harus selalu memberikan kabar. Sementara pasangannya menganggap memberikan ruang pribadi justru merupakan bentuk kepercayaan.

Masalah mulai muncul ketika perbedaan tersebut dianggap sebagai kesalahan.

Muncul pemikiran seperti:

“Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia berpikir seperti aku.”

Atau:

“Kalau dia serius menjalani hubungan ini, dia harus mengikuti standar yang aku anggap benar.”

Dalam psikologi hubungan, hal ini dapat berkaitan dengan projection, yakni kecenderungan membawa harapan, nilai, kebutuhan, atau standar pribadi ketika menilai orang lain.

Tidak semua hal yang kita anggap benar harus menjadi standar pasangan.

Kejujuran dan rasa saling menghormati, misalnya, dapat menjadi nilai penting dalam hubungan. Tetapi hobi, gaya berpakaian, cara berkomunikasi, hingga karakter sosial tidak selalu harus sama.

Tidak semua perbedaan membutuhkan perubahan.

3. Memiliki Gambaran tentang “Pasangan Ideal”

Banyak orang memasuki hubungan dengan gambaran tertentu mengenai pasangan ideal.

Gambaran tersebut bisa terbentuk dari pengalaman masa kecil, hubungan sebelumnya, keluarga, lingkungan sosial, budaya populer, hingga pengalaman romantis.

Masalahnya, manusia nyata hampir tidak pernah sepenuhnya sesuai dengan gambaran ideal tersebut.

Pasangan mungkin memiliki banyak kelebihan, tetapi tentu juga memiliki kekurangan.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, seseorang bisa berpikir:

“Sebenarnya dia cocok denganku. Kalau sifat ini berubah, dia akan menjadi pasangan yang sempurna.”

Di sinilah hubungan bisa berubah menjadi proses “memperbaiki” pasangan.

Seseorang terlalu fokus pada potensi yang dimiliki pasangannya dan lupa menerima siapa pasangan tersebut saat ini.

Melihat potensi seseorang tentu tidak salah. Tetapi jika hubungan hanya dipertahankan karena berharap pasangan suatu hari berubah menjadi versi ideal yang ada dalam pikiran kita, masalah baru bisa muncul.

Pasangan merasa terus dinilai.

Sementara orang yang menginginkan perubahan merasa kecewa karena perubahan tidak terjadi sesuai harapan.

Pasangan bukan proyek yang harus diselesaikan.

4. Menganggap Perubahan Pasangan Akan Membuat Hubungan Lebih Aman

Keinginan mengubah pasangan juga bisa muncul karena rasa tidak aman.

Seseorang yang memiliki pasangan tertutup, misalnya, mungkin merasa kesulitan memahami apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan pasangannya. Akibatnya, ia mendorong pasangan agar lebih terbuka.

Begitu pula seseorang yang takut kehilangan pasangan bisa berusaha membatasi pergaulan pasangannya.

Dalam kondisi seperti ini, keinginan mengubah pasangan terkadang sebenarnya merupakan usaha untuk mengurangi kecemasan diri sendiri.

Seseorang mungkin berpikir:

“Kalau dia lebih sering memberi kabar, aku pasti lebih tenang.”

Namun, setelah pasangan lebih sering memberi kabar, kecemasan belum tentu hilang.

Bisa saja muncul kekhawatiran baru:

“Kenapa tadi balas pesannya lama?”

“Kenapa dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman?”

Artinya, sumber masalah mungkin bukan semata-mata perilaku pasangan, tetapi kebutuhan internal untuk mendapatkan kepastian.

Karena itu, penting bertanya kepada diri sendiri:

“Aku ingin dia berubah karena perubahan itu memang baik untuk dirinya dan hubungan kami, atau karena perubahan itu membuat kecemasanku berkurang?”

Pertanyaan tersebut bisa menjadi bahan refleksi penting.

5. Menganggap Cinta Berarti Bertanggung Jawab atas Perkembangan Pasangan

Ada pula orang yang merasa bahwa mencintai pasangan berarti harus memperbaiki seluruh kekurangannya.

Niat awalnya bisa saja baik.

Ia ingin membantu. Ia ingin mendukung. Ia ingin melihat pasangannya menjadi lebih baik.

Namun, jika dilakukan berlebihan, seseorang bisa mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan miliknya.

Misalnya, pasangan kesulitan mengatur waktu. Bukannya memberikan dukungan, seseorang mulai membuatkan jadwal, terus-menerus mengingatkan, memeriksa aktivitas, bahkan marah ketika pasangan tidak mengikuti rencana.

Lama-kelamaan, hubungan dapat berubah.

Satu pihak menjadi seperti “pengatur”, sedangkan pihak lain menjadi orang yang harus terus diperbaiki.

Hubungan romantis pun berisiko kehilangan keseimbangan.

Dalam hubungan dewasa yang sehat, setiap orang tetap bertanggung jawab terhadap perkembangan dirinya sendiri.

Pasangan bisa mengatakan:

“Aku mendukungmu.”

“Aku akan menemanimu mencari solusi.”

“Aku percaya kamu bisa berubah kalau memang itu yang kamu inginkan.”

Tetapi keputusan untuk berubah tetap berada pada orang yang bersangkutan.

Dukungan memberikan ruang, sedangkan kontrol menghilangkan ruang.

6. Membawa Pengalaman Masa Lalu ke Hubungan Sekarang

Pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya juga dapat memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan baru.

Seseorang yang pernah mengalami masalah finansial dengan pasangan sebelumnya, misalnya, mungkin menjadi sangat sensitif ketika melihat pasangan barunya boros.

Orang yang pernah dikhianati juga mungkin menjadi lebih mudah curiga dan berusaha mengontrol pasangan agar kejadian serupa tidak terulang.

Pengalaman masa lalu memang bisa menjadi pelajaran.

Namun, ada risiko seseorang membawa ketakutan lama ke dalam hubungan yang baru.

Ia mungkin berpikir:

“Aku harus membuat dia berubah supaya hubungan ini tidak berakhir seperti hubungan sebelumnya.”

Masalahnya, pasangan sekarang bukanlah pasangan dari masa lalu.

Memperlakukan seseorang berdasarkan kesalahan yang dilakukan orang lain tentu tidak adil.

Karena itu, penting melakukan refleksi:

“Apakah aku sedang merespons perilaku pasangan yang benar-benar terjadi sekarang, atau sedang bereaksi terhadap pengalaman buruk di masa lalu?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan antara kewaspadaan yang sehat dan ketakutan yang terbawa dari pengalaman sebelumnya.

7. Sulit Menerima Bahwa Pasangan Memiliki Kehendak Sendiri

Alasan terakhir mungkin menjadi salah satu yang paling sulit disadari.

Seseorang bisa ingin mengubah pasangan karena sulit menerima bahwa pasangan tetap merupakan individu yang memiliki pikiran, pilihan, batasan, dan keinginan sendiri.

Hubungan yang dekat terkadang membuat seseorang lupa bahwa pasangan bukanlah bagian dari dirinya.

Pasangan tetap memiliki hak untuk memilih.

Pasangan juga memiliki hak untuk memiliki pandangan yang berbeda.

Masalah muncul ketika perbedaan dianggap sebagai ancaman terhadap hubungan.

Lalu muncul keinginan:

“Aku ingin kamu berubah karena menurutku itu yang terbaik.”

Padahal, hubungan yang sehat tidak mengharuskan dua orang menjadi identik.

Dua orang dapat memiliki perbedaan tetapi tetap membangun hubungan yang sehat.

Tentu, menerima pasangan bukan berarti menerima semua perilaku.

Setiap orang tetap berhak memiliki batasan.

Kita mungkin tidak bisa memaksa pasangan yang pendiam menjadi pribadi yang sangat terbuka. Namun, kita boleh mengatakan bahwa komunikasi yang sehat merupakan kebutuhan penting bagi kita.

Kita juga tidak bisa memaksa pasangan memiliki ambisi hidup yang sama. Tetapi kita berhak mempertimbangkan apakah perbedaan visi tersebut masih bisa dijalani bersama.

Menerima pasangan berbeda dengan kehilangan batasan diri.

Mengubah Pasangan atau Mendukung Pasangan?

Dari tujuh alasan tersebut, terlihat bahwa keinginan mengubah pasangan tidak selalu muncul karena niat buruk.

Kadang karena cinta.

Kadang karena kepedulian.

Kadang karena ketakutan.

Kadang karena pengalaman masa lalu.

Dan kadang karena kebutuhan untuk mengontrol sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Karena itu, pertanyaan paling penting bukan hanya:

“Apakah aku ingin pasangan berubah?”

Tetapi:

“Mengapa aku ingin dia berubah?”

Jika jawabannya adalah karena pasangan sendiri ingin berkembang dan kita ingin memberikan dukungan, maka kemungkinan besar yang dilakukan adalah mendukung.

Namun, jika keinginan tersebut muncul karena ingin mengurangi kecemasan, memaksakan standar pribadi, atau membuat pasangan sesuai dengan gambaran ideal kita, maka ada hal lain yang perlu diperhatikan.

Bisa jadi bukan hanya pasangan yang perlu berubah.

Kita juga perlu melihat diri sendiri.

Hubungan Sehat Tidak Harus Mengubah Seseorang

Salah satu kesalahpahaman dalam hubungan adalah anggapan bahwa pasangan yang baik harus membuat kita menjadi orang yang berbeda.

Memang benar, hubungan dapat membantu seseorang berkembang.

Kita bisa menjadi lebih dewasa, lebih terbuka, lebih bertanggung jawab, dan lebih memahami diri sendiri melalui pengalaman bersama pasangan.

Namun, perubahan yang sehat biasanya tumbuh dari kesadaran diri, bukan tekanan.

Perubahan yang dipaksakan mungkin membuat seseorang patuh untuk sementara waktu, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan yang benar-benar bertahan.

Sebaliknya, ketika seseorang merasa dihargai, didukung, dan memiliki ruang untuk menentukan pilihan, dorongan untuk berkembang dapat muncul secara lebih alami.

Karena itu, pasangan bukan seseorang yang harus diperbaiki.

Pasangan adalah seseorang yang bisa diajak tumbuh bersama.

Ada perbedaan besar antara keduanya.

Bagikan:

Iklan