Api Masih Membakar TNGP, Habitat Orangutan di Bukit Peramas dan Melinsum Terancam
KLIKWARTAKU — Kebakaran hutan masih terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), tepatnya di Bukit Peramas dan Melinsum, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Api yang belum sepenuhnya berhasil dipadamkan kini mengancam kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan dan berbagai satwa liar lainnya.
Luasan kawasan yang terbakar di dua lokasi tersebut hingga kini belum dapat dipastikan.
Petugas masih menghadapi kendala medan berat, akses terbatas serta minimnya peralatan pemadaman.
Kepala Balai TNGP Prawono Meruanto mengatakan kondisi geografis kawasan hutan menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman.
“Ini menjadi tantangan terbesar kami. Aksesibilitas karena posisinya hutan membuat sarana-prasarana kami yang minim menjadi agak sulit untuk dibawa,” katanya.
Meski terkendala peralatan, Balai TNGP terus mengerahkan seluruh sumber daya untuk mengendalikan kebakaran di sejumlah titik.
“Meskipun sangat terbatas, kami mencoba menggerakkan seluruh sumber daya dan sarana prasarana untuk melakukan pemadaman di beberapa titik yang memang sudah terjadi kebakaran,” ungkapnya.
Kawasan TNGP yang memiliki luas sekitar 108 ribu hektare saat ini hanya didukung sekitar tujuh mesin pemadam.
Kondisi peralatan yang sebagian sudah berusia tua juga menjadi kendala dalam penanganan kebakaran.
“Kalau tenaga sebenarnya banyak. Tetapi peralatan yang mungkin harus diperbarui kembali karena sudah tua. Itu menjadi tantangan kami di lapangan,” ucapnya.
Kebakaran di Bukit Peramas dan Melinsum menambah titik karhutla yang terjadi di kawasan TNGP.
Sebelumnya, kawasan Laman Satong diperkirakan terdampak kebakaran sekitar 400 hektare, meski luasan tersebut masih membutuhkan pemetaan lebih lanjut.
Balai TNGP bersama Manggala Agni, BPBD, TNI/Polri dan masyarakat terus melakukan upaya pemadaman. Untuk titik yang sulit dijangkau melalui jalur darat, dukungan water bombing juga disiapkan.
Terkait penyebab kebakaran, Balai TNGP belum dapat memastikan apakah api dipicu aktivitas manusia. Prawono meminta masyarakat tidak langsung disalahkan sebelum penyebab kebakaran diketahui secara pasti.
“Ini baru dugaan-dugaan kami. Jangan kemudian menjadikan justifikasi bahwa semua itu ulah masyarakat atau manusia,” ungkapnya.
Menurutnya, kebakaran di Gunung Palung tidak hanya mengancam tutupan hutan, tetapi juga habitat satwa liar dan fungsi ekologis kawasan tersebut.
“Gunung Palung itu selain melakukan upaya perlindungan terhadap satwa, juga sebagai serapan air,” katanya.
Dengan api yang masih menyala dan luasan terdampak yang belum terpetakan, petugas kini berpacu dengan waktu untuk mencegah kebakaran meluas dan semakin mengancam habitat orangutan di kawasan TNGP. *** Julizal










