klikwartaku.com
Beranda Nasional MUI Ingatkan AI Jangan Gerus Tradisi Sanad Keilmuan Islam

MUI Ingatkan AI Jangan Gerus Tradisi Sanad Keilmuan Islam

KH Masduki Baidlowi

KLIKWARTAKU – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, mengingatkan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak boleh menggerus tradisi keilmuan Islam di Indonesia, terutama sistem sanad ilmu dan hubungan guru-murid yang menjadi fondasi pendidikan keagamaan.

Menurut Masduki, perkembangan AI kini telah melampaui fungsi pembuatan teks dan gambar. Teknologi tersebut berkembang menjadi AI Agent yang mampu merencanakan, berdiskusi, hingga menjalankan keputusan secara mandiri.

Ia menilai perkembangan itu harus diantisipasi oleh lembaga keagamaan dengan menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas tinggi. Jika tidak, peran ulama dan institusi keagamaan berpotensi semakin tersisih dalam membimbing generasi muda.

“Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma,” ujar Masduki.

Ia menjelaskan, ketika pengguna hanya menerima jawaban dari algoritma sesuai preferensi pribadi, dapat muncul fenomena echo chamber atau ruang gema. Kondisi tersebut membuat seseorang hanya mengonsumsi informasi yang sesuai dengan pandangannya tanpa melakukan verifikasi silang.

“Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif,” tegasnya.

Masduki mengatakan, pola keberagamaan generasi muda saat ini menghadapi tantangan berupa kecenderungan memahami agama sebagai ekspresi pribadi dan kenyamanan individu, bukan sebagai proses pencarian ilmu yang dilakukan secara bertahap bersama guru.

Menurutnya, jawaban instan dari platform digital berpotensi memutus mata rantai pemahaman Islam yang damai (wasathiyah) dan sesuai tradisi keilmuan.

Meski demikian, ia menegaskan AI bukan ancaman apabila dimanfaatkan secara tepat. Teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat yang membantu manusia, bukan menggantikan peran manusia.

AI, kata dia, dapat digunakan untuk memperluas penyebaran nilai Islam yang membawa kedamaian, meningkatkan layanan keagamaan seperti zakat, serta mendukung proses pembelajaran agama dengan tetap berada dalam pengawasan dan verifikasi ulama.

“MUI harus diisi oleh orang-orang berkapasitas tinggi agar dipercaya generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi Infokomdigi MUI Hari Usmayadi mengatakan tantangan dakwah di era digital tidak lagi hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga kemampuan memenangkan perhatian publik melalui pemahaman terhadap algoritma dan AI.

“Saat ini kita menghadapi fenomena perang algoritma,” ujarnya.

Menurut dia, konten keislaman yang moderat dan berdasarkan ilmu harus mampu bersaing dengan konten instan yang berpotensi merusak pemahaman masyarakat. Ia mencontohkan tantangan berupa penyebaran informasi palsu, figur populer yang menyampaikan pandangan agama tanpa dasar keilmuan, serta berbagai konten yang tidak melalui proses verifikasi.

Hari menilai AI memang membawa risiko, seperti manipulasi konten (deepfake) dan penyebaran informasi tidak akurat. Namun, teknologi tersebut juga memiliki peluang besar untuk memperluas dakwah dan meningkatkan literasi keagamaan.

Karena itu, MUI mendorong lahirnya para “mujahid digital” yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menguasai produksi dan distribusi narasi keislaman di ruang digital.

Workshop tersebut dirancang dengan pendekatan berbasis praktik, dengan komposisi 40 persen teori dan 60 persen pelatihan teknis. Peserta mendapatkan materi mengenai prompt engineering, generative engine optimization (GEO), produksi konten media, serta strategi amplifikasi digital.

Hari mengatakan peserta diharapkan menghasilkan karya nyata berupa materi publikasi dan strategi penyebaran konten yang dapat memperkuat pesan Islam moderat dan mencerahkan.

Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda menjadi penting untuk menghubungkan kemampuan teknologi dengan kedalaman ilmu para ulama.

“Banyak pengurus dan ulama kita yang sangat ahli di bidangnya namun sudah sepuh. Di sinilah peran generasi muda untuk melakukan pendampingan. Kalian menguasai perangkat AI dan algoritmanya, tetapi substansi, validasi dalil, dan etika syariat tetap bersumber dari arahan para ulama,” kata Hari.

Langkah yang dilakukan Infokomdigi MUI bersama Baznas RI tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat transformasi digital keagamaan sekaligus menindaklanjuti rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tentang pentingnya penguasaan teknologi untuk menjaga peradaban bangsa yang damai dan berakhlak.

Bagikan:

Iklan