klikwartaku.com
Beranda Internasional AS Kembali Bombardir Iran Setelah Jeda Lima Hari, Serangan di Qeshm Tewaskan Satu Keluarga dan Picu Eskalasi Baru

AS Kembali Bombardir Iran Setelah Jeda Lima Hari, Serangan di Qeshm Tewaskan Satu Keluarga dan Picu Eskalasi Baru

Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran setelah jeda lima hari. Serangan di Pulau Qeshm dilaporkan menewaskan satu keluarga dan memicu eskalasi konflik di kawasan Teluk. Foto: Tangkapan layar YouTube Associated Press

KLIKWARTAKU — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah wilayah strategis Iran, mengakhiri jeda operasi militer selama lima malam terakhir. Serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi yang berlangsung pada Rabu malam waktu Amerika atau Kamis dini hari GMT berhasil menghantam puluhan sasaran militer yang diklaim berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menurut CENTCOM, target operasi meliputi pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, sistem pengawasan, pertahanan pantai hingga infrastruktur maritim yang disebut menjadi bagian dari kemampuan strategis Iran di kawasan Teluk.

Serangan tersebut berlangsung hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan menyerang Iran “dengan sangat keras” sebagai respons atas serangan rudal Teheran terhadap pasukan AS.

Di sisi lain, media Iran melaporkan adanya korban sipil akibat bombardir terbaru tersebut. Salah satu laporan menyebut sepasang suami istri beserta anak mereka yang baru berusia dua tahun meninggal dunia setelah bangunan tempat tinggal mereka di Pulau Qeshm dihantam serangan udara.

Pulau Qeshm merupakan pulau terbesar di Teluk Persia dan berada di lokasi yang sangat strategis, dekat jalur pelayaran internasional Selat Hormuz. Selain Qeshm, ledakan juga dilaporkan mengguncang sejumlah wilayah lain seperti Ahvaz, Abadan, Bushehr, Kazerun, hingga Farashband.

Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pemadaman listrik terjadi di Ahvaz setelah sejumlah fasilitas terdampak serangan. Wilayah Khuzestan sendiri merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar Iran. Pejabat keamanan Provinsi Khuzestan juga mengonfirmasi beberapa lokasi di Abadan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat.

Pengamat menilai pola operasi terbaru menunjukkan fokus Washington terhadap kawasan pesisir selatan Iran yang berbatasan langsung dengan Teluk Persia dan Selat Hormuz. Wilayah tersebut merupakan jalur vital perdagangan energi dunia karena sebagian besar pengiriman minyak internasional melintasi Selat Hormuz.

Amerika Serikat sebelumnya telah menghentikan sementara operasi militernya pada Jumat lalu setelah hampir dua pekan melancarkan serangan udara setiap malam. Namun jeda tersebut berakhir setelah Iran meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Yordania. IRGC menegaskan perlawanan Iran akan terus berlanjut selama ancaman dari Washington masih berlangsung.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal yang menyasar pangkalan udara dan pusat komando Amerika Serikat di Yordania. Militer Yordania menyatakan sistem radar berhasil mendeteksi rudal yang datang dan pertahanan udara mampu mencegat lima rudal sebelum mencapai sasaran. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan di Yordania.

Namun situasi berbeda terjadi di Kuwait. Kementerian Pertahanan Kuwait menyebut sebuah rudal Iran menghantam bangunan milik perusahaan asal China di wilayah utara negara tersebut. Serangan itu dilaporkan menewaskan seorang pekerja serta menyebabkan kerusakan cukup besar pada bangunan.

Analis Timur Tengah dari RANE, Ryan Bohl, menilai langkah Amerika Serikat membuka peluang eskalasi konflik yang lebih luas. Menurutnya, Washington memiliki dua pilihan utama. Pertama, melanjutkan pola serangan yang berfokus pada infrastruktur Iran yang berkaitan dengan ancaman penutupan Selat Hormuz.

Pilihan kedua adalah meningkatkan tekanan dengan menyerang infrastruktur sipil strategis seperti jembatan maupun pembangkit listrik, opsi yang sebelumnya beberapa kali disinggung Presiden Donald Trump.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Iran sebelumnya telah menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Di tengah meningkatnya operasi militer, Departemen Keuangan Amerika Serikat juga mengumumkan paket sanksi baru terhadap dua perusahaan Iran. Washington menuduh kedua perusahaan tersebut menjadi bagian dari skema yang didukung IRGC untuk memaksa kapal-kapal komersial membeli perlindungan asuransi tertentu agar dapat melintasi Selat Hormuz.

Pemerintah AS menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya mencegah Iran menggunakan jalur pelayaran internasional sebagai alat tekanan terhadap perdagangan global.

Sementara itu, mantan pejabat Pentagon David Des Roches menilai gelombang serangan terbaru belum menunjukkan eskalasi maksimal. Ia berpendapat pemerintahan Donald Trump kemungkinan masih berusaha menjaga ruang bagi jalur diplomasi meski tekanan militer terhadap Iran terus ditingkatkan.***

Bagikan:

Iklan