Rupiah Tertekan ke Rp18.129 per Dolar AS, Pengamat Prediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni
KLIKWARTAKU – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat. Pada perdagangan Senin (8/6/2026), mata uang Garuda dibuka melemah tajam ke level Rp18.129 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional dalam jangka pendek.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi bahkan memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Jika tekanan eksternal dan domestik tidak mereda, kurs rupiah berpotensi menembus level Rp19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026.
“Hari ini rupiah dibuka melemah cukup tajam. Ada kemungkinan besar rupiah mencapai level Rp19.000 per dolar AS pada akhir bulan ini,” kata Ibrahim, Senin (8/6).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang membuat investor semakin berhati-hati menempatkan dana di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz dinilai memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi dunia.
Situasi diperparah dengan meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut, termasuk serangan yang melibatkan sekutu-sekutu AS serta berlanjutnya ketegangan antara Israel dan Hamas, maupun konflik di Lebanon Selatan. Kondisi ini mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.
“Hal itu membuat dolar menguat, kemudian harga minyak juga naik,” ujar Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil dalam waktu dekat.
Ibrahim menilai bank sentral AS berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan inflasi. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga pada kuartal IV tahun ini masih terbuka apabila tekanan harga belum mereda.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat daya tarik aset berbasis dolar AS tetap tinggi sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga energi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor minyak dan gas, sehingga memperbesar permintaan dolar AS di pasar domestik.
Tekanan juga datang dari sejumlah indikator ekonomi nasional. Ibrahim menyoroti inflasi yang meningkat, surplus neraca perdagangan yang mulai menyempit, hingga perubahan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional yang dinilai turut memengaruhi sentimen investor.
“Kemudian neraca perdagangan surplus tetapi menyempit. Ditambah perubahan outlook utang Indonesia menjadi negatif, ini juga menciptakan ketegangan tersendiri di pasar,” pungkasnya.
Pelemahan rupiah yang berlanjut menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, hingga meningkatnya beban pembayaran utang dalam valuta asing. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kini mencermati langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global. **









