Minyak Dunia Tembus US$100, Ini Dampaknya bagi Indonesia
KLIKWARTAKU – Harga minyak dunia masih berada di atas US$100 per barel pada perdagangan Jumat (11/9/2026), meski terkoreksi setelah sempat melonjak mendekati US$110. Brent berada di kisaran US$104 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar US$99 per barel.
Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak tajam pada perdagangan sebelumnya. Pada penutupan Kamis (10/9/2026), Brent naik 6,34 persen menjadi US$107,63 per barel, sementara WTI melesat 6,69 persen menjadi US$102,48 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran terhadap pasokan global menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan kawasan Bab el-Mandeb, membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Pada Jumat, harga kemudian terkoreksi setelah muncul laporan mengenai kemungkinan pembicaraan untuk menjaga kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, koreksi tersebut belum menghilangkan kekhawatiran terhadap pasokan karena gangguan produksi dan distribusi minyak masih berlangsung.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global pada 2026 dapat turun sekitar 5,7 juta barel per hari atau sekitar 6 persen akibat gangguan yang berkaitan dengan konflik dan masalah distribusi di kawasan Teluk. Kondisi tersebut membuat pasar energi global menghadapi risiko pasokan yang lebih ketat.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor minyak dan produk turunannya. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan harga BBM, tetapi juga dapat merambat ke biaya transportasi, logistik, industri, dan harga berbagai barang.
Tekanan terhadap harga BBM juga sudah terlihat sebelum lonjakan minyak dunia pada pekan ini. Pertamina Patra Niaga menaikkan sejumlah harga BBM nonsubsidi mulai 1 September 2026, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Di wilayah yang menggunakan acuan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 5 persen, Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 per liter dari sebelumnya Rp18.300. Dexlite naik menjadi Rp23.700 per liter dari Rp19.700, sedangkan Pertamina Dex menjadi Rp25.200 per liter dari Rp21.150.
Sementara itu, harga BBM subsidi belum berubah. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter untuk wilayah yang menjadi acuan harga tersebut.
Harga BBM nonsubsidi di Indonesia ditentukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, dan faktor lainnya. Karena itu, kenaikan harga minyak global dapat menjadi salah satu sumber tekanan ketika harga BBM dievaluasi.
Dampak berikutnya dapat muncul melalui sektor transportasi dan logistik. Jika harga bahan bakar dan biaya distribusi meningkat dalam waktu lama, pelaku usaha berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional yang kemudian dapat memengaruhi harga barang dan jasa.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian bagi perekonomian nasional karena Indonesia merupakan net importer minyak. Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan nilai impor energi dan berpotensi menekan neraca perdagangan apabila kenaikan harga berlangsung lebih lama.
Namun, dampaknya terhadap masyarakat tidak otomatis terjadi dalam waktu yang sama dengan kenaikan harga minyak dunia. Kebijakan harga BBM, nilai tukar rupiah, kondisi fiskal, serta kebijakan pemerintah menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar kenaikan harga minyak global diteruskan ke harga energi domestik.
Dengan harga Brent yang masih bertahan di atas US$100 per barel, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi perhatian utama pasar. Jika gangguan pasokan berlanjut, tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik global berpotensi tetap tinggi hingga beberapa waktu ke depan.









