Arab Saudi Gaet 13 Negara Bentuk Aliansi Laut, Amankan Jalur Minyak Menyapu Ancam Houthi di Laut Merah
KLIKWARTAKU — Eskalasi konflik yang membakar kawasan Timur Tengah kini menyeret urat nadi perdagangan dunia ke titik kritis. Menyikapi ancaman gangguan pasokan energi yang makin nyata, Arab Saudi mengambil langkah defensif agresif dengan membentuk koalisi militer maritim multinasional. Raksasa minyak Teluk itu menggandeng 13 negara lain untuk mengamankan tiga perairan vital: Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan pembentukan Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional (Multinational Maritime Defence Alliance) ini pada Kamis lalu. Langkah tersebut digadang-gadang sebagai kerangka kerja baru untuk memperkuat kerja sama pertahanan maritim kolektif di tengah bayang-bayang perang dan aksi pembalasan antar-faksi.
“Keamanan maritim adalah tanggung jawab bersama. Kerja sama dan koordinasi antarnegara merupakan landasan utama untuk menghadapi ancaman transnasional,” tulis Kementerian Pertahanan Arab Saudi dalam pernyataan resminya.
Persekutuan militer ini beranggotakan Turki, Mesir, Pakistan, Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Djibouti, Somalia, Bangladesh, Yaman, Sudan, dan Komoro. Menariknya, dua tetangga dekat Saudi yang punya kepentingan keamanan serupa di Teluk—Uni Emirat Arab dan Oman—belum membubuhkan tanda tangan. Meski demikian, Riyadh menegaskan pintu pendaftaran tetap terbuka bagi negara lain.
Perwakilan Uni Eropa juga hadir dalam pertemuan penandatanganan tersebut. Meski Uni Eropa sudah menyiagakan misi angkatan laut Aspides di Laut Merah, belum dibeberkan secara rinci bagaimana operasional aliansi pimpinan Saudi ini akan bersinergi dengan armada Eropa.
Misi baru ini hadir bukan tanpa alasan. Sejak krisis keamanan meletus akibat ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang melumpuhkan Selat Hormuz—jalur yang biasa melalukan 20 persen pasokan minyak dan gas dunia—mancanegara mengalihkan tumpuan pada rute alternatif. Riyadh sendiri mengandalkan pipa raksasa East-West Pipeline untuk mengalirkan minyak dari kilang timur menuju terminal Yanbu di pesisir Laut Merah.
Namun, skenario penyelamatan ekonomi itu membentur dinding tebal. Pekan lalu, kelompok milisi Houthi Yaman yang disokong Iran melancarkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Dari kawasan pesisir barat Yaman yang mereka kuasai, pejuang Houthi dengan mudah membidik kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Bab al-Mandeb.
Bab al-Mandeb adalah celah sempit berjarak hanya 29 kilometer pada titik tersempitnya. Lebar yang sangat terbatas ini memaksa lalu lintas kapal lalu-lalang dalam dua jalur rapat. Sekitar 10 hingga 12 persen perdagangan maritim global dan jutaan barel crude oil saban hari bergantung pada celah kecil antara Eritrea, Djibouti, dan Yaman ini sebelum melenggang menuju Terusan Suez hingga ke Mediterania.
Gangguan sekecil apa pun di Bab al-Mandeb dipastikan memicu efek domino berupa lonjakan gila-gilaan harga BBM dan energi global. Meski berlabel persekutuan militer, Riyadh menegaskan koalisi ini murni bersifat defensif dan tidak dirancang untuk menargetkan negara tertentu secara spesifik. Markas besar aliansi ini disepakati berada di Arab Saudi, walau lokasi detailnya masih dirahasiakan.
Pernyataan resmi kementerian juga belum menyebutkan spesifikasi alutsista—seperti jenis kapal perang atau pesawat tempur—yang bakal dikerahkan tiap-tiap negara peserta. Namun, fokus awal aliansi ini akan dipusatkan pada pertukaran intelijen, penyelarasan data lalu lintas laut, perencanaan operasional, serta latihan militer gabungan di sepanjang koridor strategis Samudra Hindia hingga Laut Merah.
Bagi Arab Saudi, konsolidasi 14 negara ini adalah pertaruhan besar untuk memastikan keran ekspor minyak mereka tidak tersumbat total. Saat Hormuz membeku dan ancaman peluru kendali Houthi mengintai di Bab al-Mandeb, membentengi Laut Merah bukan lagi sekadar pilihan geopolitik, melainkan syarat mutlak demi menyelamatkan pasokan energi dunia dari kelumpuhan.***








