Kilas Balik Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie, Pemimpin Jenius yang Menjadikan Pontianak Pusat PerdaganganB
KLIK WARTAKU – Momentum Haul ke-225 Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie menjadi pengingat penting bagi masyarakat Kalimantan Barat untuk kembali meneladani sosok pendiri Kota Pontianak yang dikenal visioner, berani, dan memiliki pemikiran jauh melampaui zamannya.
Dalam catatan Pangeran Wiranata Kusuma Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Syarif Usmulyani Alqadrie, S.E., S.SiT., disebutkan bahwa Sultan Syarif Abdurrahman sejak usia muda telah menunjukkan karakter kepemimpinan yang kuat. Keberanian moral, keteguhan mental, kekuatan spiritual, hingga keberanian fisik telah ditempa langsung oleh ayahandanya, Habib Husin Alqadrie.
Sebelum menjadi Sultan, beliau terlebih dahulu menyandang gelar Pangeran melalui hubungan keluarga dengan Kerajaan Mempawah. Sultan Abdurrahman juga mempererat hubungan antarkerajaan Nusantara melalui pernikahan dengan Puteri Utin Chandramidi dari Mempawah serta Ratu Syahranum dari Kesultanan Banjar.
Meski berhasil mendirikan dan memimpin Kesultanan Pontianak, Sultan Abdurrahman dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah berpuas diri. Beliau terus membangun kekuatan kerajaan, mengorganisasi masyarakat, dan memperluas jaringan perdagangan tanpa menunjukkan sikap arogan terhadap pencapaian yang telah diraih.
“Sikap rendah hati, kemampuan memimpin, dan semangat membangun inilah yang patut menjadi teladan bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya generasi muda Pontianak,” ungkap Syarif Usmulyani.
Sultan Abdurrahman juga merupakan simbol persatuan berbagai suku dan budaya Nusantara. Lahir dari garis keturunan Arab dan Dayak melalui ibunya yang berasal dari lingkungan Kerajaan Matan Islam Melayu, serta memiliki hubungan keluarga dengan kerajaan Bugis dan Banjar. Hingga kini, keturunan beliau telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia bahkan mancanegara.
Tak hanya dikenal sebagai pemimpin, Sultan Abdurrahman juga dikenang sebagai seorang negarawan dengan kecerdasan geopolitik yang luar biasa. Penetapan lokasi berdirinya Kesultanan Pontianak dan Istana Kadriah bukanlah keputusan yang dilakukan secara kebetulan.
Beliau melihat wilayah pertemuan sungai dan jalur laut Pontianak sebagai kawasan yang sangat strategis. Posisi tersebut menjadi titik perlintasan masyarakat dari pedalaman Kalimantan, jalur perdagangan antar pulau, hingga lintasan pelayaran internasional yang menghubungkan kawasan ASEAN, Asia, dan Eropa.
Berkat visi besar tersebut, Pontianak berkembang menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, dan kekuasaan yang menaungi berbagai kerajaan di Kalimantan Barat pada masanya.
Lebih dari dua abad setelah wafatnya, warisan pemikiran Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie masih dapat dirasakan hingga hari ini. Kota Pontianak yang terus tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi Kalimantan menjadi bukti nyata kecerdasan, keberanian, dan visi besar sang pendiri.
Peringatan Haul ke-225 bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk meneladani semangat kepemimpinan, persatuan, dan kecintaan terhadap pembangunan daerah yang telah diwariskan Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie kepada generasi penerus.








