klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Kemendag: Wastra Nusantara Jadi Senjata Fesyen Indonesia Tembus Pasar Global, Potensi Transaksi Ekspor Capai USD 251 Juta

Kemendag: Wastra Nusantara Jadi Senjata Fesyen Indonesia Tembus Pasar Global, Potensi Transaksi Ekspor Capai USD 251 Juta

Ilustrasi batik gaul

 

KLIKWARTAKU – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan kekayaan wastra nusantara menjadi kekuatan utama industri fesyen Indonesia untuk bersaing di pasar global. Melalui kreativitas dan inovasi, wastra berbasis budaya dinilai memiliki potensi besar sebagai instrumen diplomasi ekonomi sekaligus penggerak ekspor nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri saat membuka BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (29/7/2026). Ajang fesyen nasional itu merupakan hasil kolaborasi Bank Tabungan Negara (BTN), Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, para desainer, pelaku usaha, dan perajin.

Menurut Roro, tren pasar global saat ini tidak lagi hanya mengutamakan kualitas produk, tetapi juga identitas, cerita, dan nilai keberlanjutan. Karena itu, wastra nusantara memiliki daya saing yang kuat untuk menembus pasar internasional.

“Konsumen global saat ini tidak hanya mencari produk yang berkualitas, tetapi juga produk yang memiliki identitas, cerita, dan nilai keberlanjutan. Wastra kita memenuhi kriteria tersebut. Keunggulan inilah yang menjadikan wastra nusantara sebagai aset strategis untuk memperkuat daya saing fesyen Indonesia di pasar global,” ujar Roro.

Kemendag terus memperluas akses pasar produk fesyen Indonesia melalui diplomasi perdagangan, promosi ekspor, serta fasilitasi penjajakan bisnis (business matching). Upaya promosi dilakukan dengan memanfaatkan jaringan 24 Atase Perdagangan (Atdag), 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Konsul Perdagangan Hong Kong, hingga Perwakilan Tetap RI di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Selain itu, melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor, Kemendag mempertemukan pelaku usaha, termasuk UMKM fesyen berbasis wastra, dengan pembeli internasional. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, program tersebut telah menyelenggarakan 424 sesi pitching dan business matching yang diikuti 1.148 pelaku usaha, dengan potensi transaksi mencapai USD 251,34 juta.

BTN IFW 2026 berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Ulos Simetria”. Tema tersebut mengangkat ulos sebagai simbol identitas, keseimbangan, kasih sayang, dan kearifan lokal masyarakat Batak yang dipadukan dengan inovasi fesyen modern.

Roro menilai tema tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan industri kreatif. Menurutnya, warisan budaya bukan hanya harus dijaga, tetapi juga mampu menjadi sumber nilai tambah ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia di industri fesyen dunia.

Ia pun mengajak para desainer, pelaku UMKM, dan seluruh insan fesyen Indonesia untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan identitas budaya bangsa.

“Jadikan panggung IFW 2026 sebagai momentum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa wastra Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi karya fesyen yang kreatif, bernilai tambah, dan berdaya saing global,” tegasnya.

Ketua APPMI sekaligus Presiden IFW, Poppy Dharsono, mengatakan tema Ulos Simetria menggambarkan keseimbangan antara tradisi dan inovasi, kearifan lokal dan persaingan global, serta pelestarian budaya dengan masa depan industri kreatif Indonesia.

Sementara itu, Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan menegaskan komitmen BTN mendukung pertumbuhan industri kreatif melalui layanan perbankan yang semakin digital dan inklusif. Di sisi lain, Ketua Dekranasda Sumatera Utara Kahiyang Ayu Bobby Nasution berharap ulos semakin diminati generasi muda dan mampu memperluas penetrasi produk fesyen Indonesia ke pasar internasional.

 

Bagikan:

Iklan