klikwartaku.com
Beranda Lifestyle Hubungan Melelahkan tapi Sulit Diakhiri? Kenali Pola Repetition Compulsion

Hubungan Melelahkan tapi Sulit Diakhiri? Kenali Pola Repetition Compulsion

Ilustrasi pasangan sedang bertengkar dengan ekspresi emosional,

KLIK WARTAKU – Banyak orang bertanya-tanya, mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas menyakitkan. Konflik datang silih berganti, rasa dihargai semakin memudar, namun keputusan untuk mengakhiri hubungan justru terasa sangat berat.

Ternyata, jawabannya tidak selalu karena cinta.

Mengutip Psychology Today, seseorang yang sulit melepaskan diri dari pasangan dengan sifat narsistik sering kali dipengaruhi oleh luka emosional yang sudah terbentuk sejak masa kecil. Pengalaman seperti kurang mendapat kasih sayang, pengabaian, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dapat membentuk cara seseorang menjalin hubungan saat dewasa.

Tanpa disadari, pengalaman tersebut membuat seseorang cenderung mencari hubungan yang memiliki pola serupa dengan harapan kali ini hasilnya akan berbeda.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai repetition compulsion, yakni kecenderungan mengulang pengalaman emosional yang menyakitkan sebagai upaya bawah sadar untuk “memperbaiki” luka lama.

Di awal hubungan, pasangan yang memiliki sifat narsistik biasanya tampil sangat menarik. Mereka terlihat percaya diri, karismatik, perhatian, bahkan mampu membuat pasangannya merasa sangat spesial.

Namun seiring waktu, gambaran indah tersebut mulai memudar.

Hubungan perlahan berubah menjadi lebih melelahkan. Pasangan dengan sifat narsistik dapat menunjukkan kebutuhan akan pujian yang berlebihan, sulit berempati, hingga lebih sering menempatkan kepentingan dirinya di atas kebutuhan pasangan.

Akibatnya, pasangan kerap merasa bingung, kehilangan rasa percaya diri, bahkan terus mempertanyakan dirinya sendiri. Meski hubungan sudah terasa tidak sehat, keluar dari situasi tersebut sering kali menjadi hal yang sangat sulit.

Salah satu kenyataan yang paling berat untuk diterima adalah bahwa seseorang tidak bisa mengubah pasangannya hanya dengan cinta yang lebih besar, kesabaran tanpa batas, atau pengorbanan yang terus-menerus.

Perubahan hanya dapat terjadi apabila kedua belah pihak benar-benar memiliki keinginan untuk berubah dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Karena itu, langkah pertama yang penting bukanlah berusaha memperbaiki pasangan, melainkan mengenali pola hubungan yang terus berulang, memahami asal-usul luka emosional dalam diri sendiri, dan mulai membangun batasan yang sehat.

Perlu dipahami pula bahwa memiliki sifat narsistik tidak otomatis berarti seseorang mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD). Demikian pula, tidak semua hubungan yang penuh konflik disebabkan oleh narsisme.

Namun, apabila sebuah hubungan terus memicu tekanan emosional, rasa tidak aman, menguras energi, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental bisa menjadi langkah yang bijak.

Memahami diri sendiri sering kali menjadi awal untuk memutus siklus hubungan yang tidak sehat dan membuka jalan menuju relasi yang lebih dewasa, saling menghargai, dan memberi rasa aman.

Bagikan:

Iklan